Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis yang kamu minta, dengan sentuhan puitis dan penuh intrik: **Judul: Kau Mengangkat Pedang Padaku, Tapi Mata Kita Saling Memaafkan Sebelum Darah Jatuh** Angin malam membisikkan rahasia di antara pepohonan bambu yang bergoyang. Di bawah rembulan pucat, dua sosok berdiri berhadapan. Dulu, mereka adalah satu: **Yue** dan **Li Wei**, saudara angkat yang tumbuh dalam gemblengan Klan Naga Putih yang legendaris. Yue, dengan mata setajam elang dan hati sekuat baja. Li Wei, lebih lembut namun menyimpan api yang membara di balik senyum misteriusnya. "Yue," desis Li Wei, suaranya bagai sutra yang terkoyak. Di tangannya, *Guāng*, pedang pusaka klan, berkilauan mematikan. "Kau tahu kenapa aku di sini." Yue hanya menatapnya. Ekspresinya tak terbaca. "Aku tahu kau selalu menyimpan sesuatu dariku, Wei. Tapi aku tak menyangka akan *ini*." Dulu, mereka berbagi segalanya: latihan keras di bawah bimbingan Guru Agung, mimpi tentang kejayaan Klan Naga Putih, dan janji setia yang terukir dalam hati. Tapi malam ini, janji itu terasa seperti debu yang beterbangan. "Kau bertanya siapa yang mengkhianati siapa?" Li Wei tertawa pahit. "Kau tidak *Tahu*? Ayah kita… bukan ayah kandungmu, Yue. Dia adalah… *anak haram* dari Klan Darah Serigala, musuh bebuyutan kita!" Mata Yue melebar. Sebuah rahasia yang menggunting akal sehatnya. "Mustahil…" "Bukan hanya itu," lanjut Li Wei, nadanya semakin menusuk. "Guru Agung tahu. Dia memerintahkan ayahmu untuk dibunuh, dan aku… *aku* yang melakukannya." Yue terdiam. Kilatan rasa sakit dan pengkhianatan melintas di matanya. "Kau… membunuh ayahku? Demi Klan Naga Putih?" "Demi kita, Yue! Jika kebenaran ini terungkap, kita berdua akan mati!" "Mati…" Yue mengulangi kata itu, hampa. Tangannya terkepal. Pedang di sarungnya bergetar. "Maka biarlah." Mereka bertarung. Bukan hanya dengan pedang, tapi dengan kenangan, harapan, dan cinta yang telah ternoda. Setiap tebasan adalah jeritan hati yang terluka. Setiap tangkisan adalah penolakan atas takdir yang kejam. "Kau tahu aku tak ingin melakukan ini, Yue!" teriak Li Wei, air mata mengalir di pipinya. "Tapi kau melakukannya, Wei. Kau selalu *memilih* mereka," balas Yue, suaranya dingin seperti es. Pada akhirnya, pedang Yue menembus dada Li Wei. Darah membasahi jubahnya yang putih. Mereka bertatapan. Di mata Li Wei, Yue melihat penyesalan yang mendalam, dan… cinta. "Maafkan aku, Yue…" bisik Li Wei, darah mengalir dari mulutnya. "Aku sudah memaafkanmu… sebelum pedang ini jatuh," jawab Yue, suaranya bergetar. Li Wei tersenyum lemah. "Jaga Klan kita… dan jangan biarkan dendam membutakanmu…" Li Wei menghembuskan nafas terakhirnya. Yue memeluk tubuh saudaranya, air matanya membasahi jubahnya yang berlumuran darah. Dendam membara dalam dirinya, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat: *cinta* yang abadi dan rasa bersalah yang tak terhapuskan. Dengan pedang di tangan, Yue bersumpah untuk membalaskan dendam ayahnya dan saudaranya. Dia akan menghancurkan siapapun yang bertanggung jawab atas tragedi ini, bahkan jika itu berarti menghancurkan dirinya sendiri. Yue menatap langit yang mulai memerah. "Aku akan menemukan kebenaran… *walaupun harus mengorbankan segalanya*." (Terdengar hembusan nafas terakhir dari mulut Yue)
You Might Also Like: 121 Kekurangan Rekomendasi Skincare

Share on Facebook