Oke, inilah kisah pendek yang terinspirasi dari ide tersebut, ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan penekanan pada emosi dan simbolisme: *** Hujan menggigil di jendela kaca kedai teh. Di dalam, Lin, duduk membelakangi pintu, menyeruput teh pahitnya. Delapan tahun. Delapan tahun sejak nama aslinya diganti dengan sebuah larangan: “Jangan Dibuka.” Nama yang diucapkan dengan nada dingin oleh bibir yang dulunya melukiskan janji abadi. Bibir miliknya, Wei. Lentera di sudut ruangan berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam, serupa dengan harapan yang dulu pernah bersemi di hatinya. Setiap tetes hujan yang menghantam kaca terasa seperti pukulan demi pukulan, mengingatkannya pada malam itu. Malam di mana Wei, dengan mata yang sama berkilau namun berbohong, memilihnya… memilihnya untuk dikorbankan. Pintu berderit. Wei berdiri di ambang, siluetnya terpotong oleh cahaya kota yang remang. Bayangannya *patah* di lantai, seolah mencerminkan jiwa mereka berdua yang telah hancur. "Lin…" Suara Wei serak, membawa serta aroma parfum sandalwood yang dulu begitu ia cintai. Sekarang, aroma itu hanya membuat perutnya mual. Lin tidak berbalik. "Wei. Apa yang membawamu kemari?" "Aku… aku ingin minta maaf." Lin tertawa hambar. Tawa yang tidak sampai ke matanya. "Maaf? Setelah delapan tahun? Setelah kau mencuri segalanya dariku?" Wei melangkah maju, mencoba menyentuh bahu Lin. Lin menepis tangannya dengan kasar. "Kau tahu, Wei, selama delapan tahun ini, aku telah merencanakan pertemuan ini. Aku telah memikirkan setiap kata, setiap gerakan." Wei tampak bingung. "Merencanakan?" Lin akhirnya berbalik. Mata Wei terbelalak. Mata Lin tidak lagi memancarkan kesedihan, melainkan *dingin yang menusuk tulang*. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kayu kecil, diukir dengan motif bunga teratai yang familiar. "Ingat kotak ini, Wei? Kotak tempat kau menyimpan *RAHASIA* kita?" Lin membuka kotak itu. Isinya bukan surat cinta atau foto kenangan. Isinya *abu*. "Abu siapa ini, Lin?" Wei bertanya, suaranya bergetar. Lin tersenyum, senyum yang tidak pernah dilihat Wei sebelumnya. Senyum yang membuat Wei merasakan *ketakutan* yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Abu *DIRIMU*. Versi dirimu yang dulu, Wei. Versi dirimu yang aku cintai." Lin menjatuhkan kotak itu ke lantai. Kotak itu pecah, abu bertebaran di udara, menyelimuti mereka berdua. Wei berlutut, menangis tersedu-sedu. "Apa yang kau inginkan dariku, Lin?" Lin membungkuk, membisikkan sesuatu ke telinga Wei. Sebuah kalimat yang membuat Wei membeku, darahnya seolah berhenti mengalir. "Kau tahu, Wei… **AKU TAHU SIAPA YANG MEMBUNUH ADIKMU.**"
You Might Also Like: 159 Cartoon Map Of California High Res

Share on Facebook