Baiklah, inilah kisah dracin pendek berjudul 'Bayangan yang Menyeret Jubah Kaisar': *** **Bayangan yang Menyeret Jubah Kaisar** Lorong istana *bisu*. Obor-obor temaram menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang menyerupai jemari hantu. Udara pengap, beraroma cendana dan… sesuatu yang lebih busuk. Dulu, lorong ini dipenuhi tawa selir-selir dan langkah kaki para kasim yang tergesa. Sekarang, hanya gema sepatu bot kulit yang memecah kesunyian. Seorang pria berjubah hitam berjalan dengan langkah mantap. Wajahnya tertutup kerudung, hanya menyisakan sepasang mata gelap yang mengamati sekeliling dengan intensitas membakar. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia dianggap mati, tenggelam di kedalaman Danau Bulan Sabit. Sepuluh tahun Kaisar Li Wei berkuasa tanpa bayangannya. Di ujung lorong, pintu besar berwarna merah menyala terbuka. Aula pertemuan agung. Kaisar Li Wei duduk di singgasananya, wajahnya keriput dan matanya sayu. Ia tampak lebih tua dari usianya. Di sampingnya berdiri Permaisuri Xiao, anggun dan dingin seperti patung giok. "Siapa kau?" tanya Kaisar, suaranya parau. "Beraninya kau mengganggu ketenanganku?" Pria berjubah hitam itu membuka kerudungnya. "Li Jun," jawabnya, suaranya *lirih* namun bergema di seluruh aula. "Adikmu. Pangeran Ketiga yang telah kau bunuh." Kaisar terkesiap. Permaisuri Xiao tetap tenang, namun bibirnya sedikit bergetar. "Mustahil," desis Kaisar. "Aku melihatmu tenggelam. Aku… *memastikannya*." Li Jun tersenyum pahit. "Air danau memang dingin, Kakanda. Namun, ia tidak membunuhku. Ia hanya menyembunyikanku. Aku memiliki teman di antara ombak, sekutu di antara ikan-ikan." Ia melangkah maju, mendekati singgasana. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku." "Kau gila! Kau pikir aku akan menyerahkan takhtaku?" "Aku tidak menginginkan takhtamu," jawab Li Jun, suaranya *menikam*. "Aku menginginkan KEBENARAN." Ia menunjuk Permaisuri Xiao. "Dialah yang membisikkan racun ke telingamu, Kakanda. Dialah yang menaburkan benih keraguan, yang membujukmu untuk menyingkirkanku. Ia menginginkan kekuasaan, dan kau… hanyalah bonekanya." Permaisuri Xiao tertawa. Tawa dingin, tanpa kehangatan. "Bodoh," katanya. "Kau pikir aku mencintaimu, Li Wei? Kau hanyalah tangga bagiku. Dan kau, Li Jun… kau hanyalah *pion* yang berguna untuk membersihkan jalan." Kaisar Li Wei menatap Permaisuri Xiao dengan ngeri. "Apa… apa maksudmu?" Permaisuri Xiao melangkah maju, mendekati Kaisar. Senyumnya *mematikan*. "Maksudku, Pangeran Ketiga, bahwa selama sepuluh tahun ini… *kau* yang tenggelam, bukan dia." Dia mengeluarkan sebilah pisau belati dari balik lengan bajunya dan menusuk Kaisar tepat di jantung. Kaisar Li Wei tersungkur, matanya nanar. Li Jun hanya berdiri terpaku, menyaksikan drama yang telah ia rencanakan dengan cermat selama sepuluh tahun. Dia telah mengorbankan hidupnya, atau setidaknya *pura-pura* mengorbankannya, untuk mengungkap kebusukan di jantung istana. Permaisuri Xiao berlutut di samping mayat Kaisar. "Akhirnya," bisiknya, "kerajaan ini menjadi milikku." Li Jun mendekat. "Kau salah. Kerajaan ini *tidak pernah* menjadi milikmu." Ia memberikan isyarat. Dari balik pilar-pilar, muncul prajurit-prajurit setia Li Jun, mengelilingi Permaisuri Xiao. "Aku yang menarik benang," kata Li Jun, suaranya *dingin* seperti es. "Kau hanyalah boneka yang menari sesuai iramaku." Permaisuri Xiao menatapnya dengan mata penuh kebencian dan keputusasaan. Dia memahami semuanya sekarang. Li Jun tidak pernah benar-benar mati. Dia telah mengatur semuanya dari balik bayangan, menggunakan rasa haus kekuasaannya sebagai alat untuk menghancurkan dirinya sendiri dan Kaisar. Saat prajurit-prajurit menangkapnya, Permaisuri Xiao berteriak: "Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini?!" Li Jun menatapnya dengan tatapan kosong. "Karena," jawabnya, "beberapa kebenaran lebih berharga daripada tahta." Kemudian, di tengah keheningan aula yang pekat, dia menambahkan dengan suara nyaris tak terdengar, *Dan balas dendam adalah kebenaran yang paling manis.*
You Might Also Like: Morticians Unspoken Duty Intimate

Share on Facebook