Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang kamu inginkan, dengan bumbu misteri dan sentuhan melankolis: **Cinta yang Kurelakan Pergi** Malam itu, denting guqin membelah kesunyian villa. Setiap nada yang merambat di udara terasa seperti tetesan air mata yang jatuh perlahan. Di balik jendela kaca besar, Mei Lan berdiri mematung, menatap hamparan kebun teh yang diterangi rembulan. Udara dingin menusuk tulang, namun jauh lebih dingin lagi adalah hati yang berlubang. Lima tahun. Lima tahun ia mencintai Li Wei, mewujudkan mimpi bersamanya membangun *Imperial Tea House* yang kini termasyhur di seluruh Shanghai. Lima tahun ia menutup mata pada desas-desus, pada tatapan aneh para pelayan, pada senyum sinis selir-selir Li Wei. Sebab ia tahu. Ia *tahu* bahwa Li Wei memiliki banyak wanita. Ia *tahu* bahwa cinta Li Wei tak sepenuhnya untuknya. Tapi ia memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena rahasia yang ia simpan. Rahasia yang terjalin erat dengan masa lalu kelam keluarga Li Wei. Denting guqin semakin lirih. Ingatan berputar. Malam pesta ulang tahun *Imperial Tea House* yang ketiga. Di tengah gemerlap lampu kristal dan tawa riang, ia melihatnya. Li Wei, berbisik mesra dengan seorang wanita bergaun merah menyala. Bukan hanya bisikan mesra, tapi *ciuman* yang penuh gairah. Di sanalah, hatinya hancur berkeping-keping. Namun ia tetap diam. Ia tersenyum, melayani tamu, memastikan semuanya berjalan lancar. Seolah tak terjadi apa-apa. Keesokan harinya, ia menyerahkan surat pengunduran diri. Li Wei terkejut, marah, memohon. Tapi Mei Lan tetap teguh. Ia meninggalkan *Imperial Tea House*, meninggalkan Shanghai, meninggalkan Li Wei. Orang-orang mengira ia patah hati. Mereka kasihan, mencibir Li Wei yang dianggap tak tahu diri. Tapi tak seorang pun tahu kebenaran yang sesungguhnya. *** Lima tahun berlalu. Mei Lan kembali ke Shanghai. Bukan sebagai Mei Lan yang dulu, tapi sebagai Ny. Zhao, pemilik jaringan hotel mewah yang namanya mengguncang industri perhotelan. *Zhao Corporation* kini menjadi pesaing berat *Imperial Tea House*. Suatu malam, ia bertemu Li Wei di sebuah gala amal. Li Wei tampak lebih tua, matanya sayu, senyumnya dipaksakan. Ia mencoba menyapa Mei Lan, tapi Mei Lan hanya menatapnya dingin. Seolah ia tak mengenal pria itu. "Mei Lan… aku merindukanmu," bisik Li Wei. Mei Lan tersenyum sinis. "Maaf, Tuan Li. Anda pasti salah orang." Ia berlalu, meninggalkan Li Wei yang tertegun. Beberapa bulan kemudian, *Imperial Tea House* mengalami krisis keuangan. Reputasi mereka tercoreng skandal korupsi yang melibatkan para petinggi perusahaan. Saham mereka anjlok. *Zhao Corporation* menawarkan bantuan, tapi dengan syarat yang tak bisa ditolak. *Imperial Tea House* harus menjadi bagian dari *Zhao Corporation*. Li Wei tak punya pilihan. Ia menandatangani perjanjian itu. Di hadapan Mei Lan, ia menyerahkan *Imperial Tea House* yang telah ia bangun dengan susah payah. Saat itulah, Mei Lan membisikkan sesuatu di telinga Li Wei. Sesuatu yang membuat mata Li Wei membelalak. Sesuatu yang menjelaskan mengapa Mei Lan selama ini diam. **RAHASIA** itu adalah: Mei Lan adalah putri dari ketua mafia Shanghai yang dulu dibunuh oleh ayah Li Wei untuk merebut kekuasaan. *Imperial Tea House* dibangun dengan darah dan air mata keluarga Mei Lan. Dan Mei Lan diam selama ini, menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam. Bukan dengan kekerasan. Bukan dengan pembunuhan. Tapi dengan menghancurkan *Imperial Tea House*, merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Kini, Li Wei kehilangan segalanya. Cintanya, impiannya, dan kehormatannya. Ia ditinggalkan sendirian di tengah malam yang sunyi. Mei Lan menatap kepergian Li Wei dari jendela kantornya. Dendam telah terbalaskan. Namun, hatinya terasa hampa. Ia menghela napas panjang. Takdir memang kejam, namun keadilan, *SEKALI PUN*, akan menemukan jalannya. Dan Mei Lan menyadari, bahwa kebahagiaan sejati tak pernah ia temukan, meski keadilan sudah ditegakkan…
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Digigit Hiu Wajib Kamu

Share on Facebook