## Aku Tahu Cinta Ini Tak Boleh Tumbuh, Tapi Ia Tetap Mekar di Luka Hujan selalu menari di atas batu nisan ini, seolah langit ikut berduka. Airnya dingin, menusuk sampai ke tulang, sama seperti dinginnya kenangan yang mencengkramku. Aku, Lin Wei, berdiri di sini, bukan sebagai seorang wanita yang bernapas, melainkan sebagai *bayangan* yang menolak pergi. Dulu, aku hidup. Dulu, aku mencintai. Dulu, aku di sini bersamamu, Chen Yi. Namun, takdir memang seringkali *kejam*. Aku pergi terlalu cepat, dengan sebuah rahasia membatu di bibirku. Rahasia tentang cinta yang tumbuh diam-diam, cinta yang tak boleh tumbuh di antara kita. Cinta yang, sialnya, justru mekar di atas luka. Sekarang, aku kembali. Bukan untuk menuntut balas, bukan untuk menghantui mereka yang membuatku pergi. Tidak. Aku hanya ingin...damai. Dunia arwah sunyi, indah, dan penuh kabut. Aku melayang-layang di antara dua dunia, melihatmu dari jauh, Chen Yi. Melihatmu berjuang dengan duka, melihatmu menyimpan amarah dalam diam. Hatiku sakit, seolah luka ini baru saja diiris kembali. Aku melihatnya, wanita itu. Zhou Mei. Wanita yang dulu menjadi sahabatku, wanita yang sekarang mendampingimu. Wanita yang *mungkin* bertanggung jawab atas kepergianku. Namun, dendam bukan jalanku. Aku mencari petunjuk, bukan bukti. Aku mencari alasan, bukan pembenaran. Aku mencari kebenaran, bukan kemenangan. Malam demi malam, aku mengikutinya. Mengamati gerak-geriknya, mendengar bisikannya, merasakan aura kegelapan yang mengelilinginya. Aku melihatnya menyembunyikan surat, membakar foto, dan menyangkal kebenaran. Kemudian, terungkaplah semuanya. Bukan Zhou Mei yang bertanggung jawab. Dia hanyalah *bidak*. Dalang di balik semua ini adalah... ayahmu sendiri, Chen Yi. Ayahmu yang menginginkan perusahaan keluarga kita, ayahmu yang mengatur segalanya agar aku "kecelakaan". Tangisku tak berwujud, sakitnya menusuk-nusuk jiwa. Aku ingin berteriak, aku ingin memelukmu, aku ingin memberitahumu kebenaran *pahit* ini. Namun, aku hanyalah arwah. Sentuhanku dingin, suaraku bisu. Aku hanya bisa menyaksikanmu hidup dalam kebohongan. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunjukkan jalannya. Aku membimbingmu, secara halus dan penuh kesabaran. Aku menuntunmu ke surat yang tersembunyi, ke foto yang terbakar sebagian, ke percakapan yang direkam secara diam-diam. Kau mulai curiga. Kau mulai bertanya. Kau mulai mencari tahu. Aku melihatmu mendekati kebenaran, selangkah demi selangkah. Hatiku berdebar, bukan karena takut, melainkan karena harapan. Saat kau akhirnya tahu, saat kau berhadapan dengan ayahmu, aku berada di sana. Menyaksikan bagaimana dunia runtuh di sekelilingmu. Air matamu mengalir, sama derasnya dengan hujan di atas makamku. Kau berlutut, memohon penjelasan, menuntut keadilan. Ayahmu mengaku. Dia mengakui semuanya. Dia mengakui bahwa dia membunuhku demi *kekuasaan*. Amarahmu meledak. Kau ingin membalas dendam, kau ingin menghancurkannya. Namun, aku menggelengkan kepala. Tidak, Chen Yi. Ini bukan jalan kita. Kau mengertakkan gigi, menahan amarahmu. Kau menyerahkan ayahmu kepada pihak berwajib. Kau memilih keadilan, bukan balas dendam. Dan saat itulah, aku merasakan kedamaian. Beban di pundakku terangkat. Luka di hatiku mulai sembuh. Aku tahu, kebenaran telah terungkap. Aku tahu, kau akan baik-baik saja. Aku menatapmu untuk terakhir kalinya. Hujan mulai mereda, mentari pagi mulai menyinari nisan ini. "Selamat tinggal, Chen Yi..." … dan mungkin, hanya mungkin, aku tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: El Impactante Caso De Diego Santoy Diez

Share on Facebook