Baik, ini dia dracin pendek berjudul 'Aku Terlahir Untuk Mencintai, Tapi Kau Terlahir Untuk Melupakan': **Aku Terlahir Untuk Mencintai, Tapi Kau Terlahir Untuk Melupakan** Aroma dupa cendana selalu membawanya kembali. Bukan ke kuil megah tempat ia dilahirkan kembali, melainkan ke taman bunga persik di kaki gunung Lushan. Di sanalah, dalam *kehidupan lampau*, ia pertama kali bertemu dengannya. Mei Lan, namanya di kehidupan ini, adalah seorang peramal muda yang dihormati. Ia mampu melihat untaian takdir, membaca bintang, dan merasakan sisa-sisa emosi dari masa lalu yang tertinggal di suatu tempat. Namun, ada satu untaian takdir yang selalu kabur: takdirnya sendiri. Setiap kali ia bermimpi, ia melihat seorang jenderal muda gagah berani, berdiri di bawah pohon persik yang sedang mekar. Jenderal itu selalu menatapnya dengan tatapan *penuh cinta* dan harapan. Namun, mimpi itu selalu berakhir dengan darah, pengkhianatan, dan _kehancuran_. Suatu hari, seorang pria datang ke kuil. Namanya adalah Li Wei, seorang pengusaha muda kaya raya dengan aura *arogan* yang kentara. Saat mata mereka bertemu, Mei Lan merasakan gelombang energi yang *kuat* menghantamnya. Aroma dupa cendana terasa semakin pekat, dan bayangan taman persik kembali menghantuinya. Li Wei, tanpa sadar, membawa potongan-potongan masa lalunya. Sebuah liontin giok berbentuk naga, persis seperti yang ia berikan kepada jenderal muda itu. Kebiasaan menggenggam tangan kirinya saat merasa gugup, sama seperti yang dilakukan jenderal itu saat merencanakan strategi perang. Melalui mimpi-mimpi yang semakin jelas, Mei Lan mulai mengingat semuanya. Ia adalah putri mahkota dari kerajaan yang hancur karena perang. Jenderal muda itu, kekasihnya, telah berjanji untuk melindunginya. Namun, _pengkhianatan_ mengubah segalanya. Li Wei, jenderal muda itu di kehidupan lampau, telah mengkhianatinya demi tahta dan kekuasaan. Hatimu *hancur*. Balas dendam? Bukan dengan pedang atau racun. Mei Lan memilih jalan yang lebih halus. Ia membaca takdir Li Wei, melihat titik lemahnya, dan dengan senyum tipis di bibirnya, ia _membisikkan_ saran-saran bisnis yang tampak menjanjikan, namun sebenarnya akan membawa Li Wei menuju kebangkrutan dan kehancuran. Keputusan yang ia ambil adalah *hukuman* abadi. Karena di kehidupan ini, Li Wei tidak lagi berkuasa. Ia tidak lagi memiliki tahta untuk diperebutkan. Ia hanya memiliki kesengsaraan dan penyesalan. Saat Li Wei jatuh bangkrut dan kehilangan segalanya, ia datang menemui Mei Lan. Dengan tatapan kosong, ia bertanya mengapa semua ini terjadi padanya. Mei Lan hanya tersenyum lembut dan menjawab, "Kau terlahir untuk melupakan, tapi aku terlahir untuk… _mengingat_." Di bawah rembulan yang pucat, Mei Lan berbalik dan meninggalkan Li Wei dalam kehancurannya, aroma dupa cendana menguar di sekelilingnya, membawa janji yang akan tergenapi di kehidupan selanjutnya. Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, dan *kau* akan mengingat.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Interpretasi Mimpi

Share on Facebook