Baiklah, mari kita rajut kisah dracin pendek yang penuh misteri: **Bayangan yang Mengajariku Menyiksa** Lorong istana itu sunyi, angin berdesir pelan membawa aroma cendana yang menenangkan, namun **DINGIN**. Obor-obor menari-nari, bayangannya memanjang dan memendek, menciptakan ilusi makhluk gaib yang mengintai. Mei Lan kembali. Sepuluh tahun ia dianggap hilang, tenggelam di sungai berarus deras yang membelah Lembah Seribu Kabut. Dulu, ia hanya gadis polos yang menyimpan impian sederhana: menjadi istri seorang pangeran. Kini, matanya menyimpan rahasia kelam, senyumnya menyimpan luka yang tak tersembuhkan. "Mei Lan?" bisik Pangeran Jian, suaranya bergetar. Di hadapannya berdiri seorang wanita anggun, gaun sutra hitamnya berkilauan redup di bawah cahaya obor. Wajahnya pucat, namun sorot matanya **TAJAM**. "Apakah kau merindukanku, Yang Mulia?" jawab Mei Lan, suaranya lembut bagai beludru, namun setiap kata terasa bagai jarum yang menusuk. "Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin kau masih hidup? Semua orang mengira kau..." Pangeran Jian tergagap, tak mampu melanjutkan kalimatnya. Mei Lan melangkah mendekat, aroma bunga melati yang menusuk memenuhi udara. "Hidup? *Tidak*, Yang Mulia. Aku lebih dari sekadar hidup. Aku *kembali*." Ia berhenti tepat di hadapan sang pangeran, menatapnya lekat. "Untuk mengambil apa yang menjadi hakku." Malam itu, Mei Lan menceritakan kisah yang **MENGERIKAN**. Bagaimana ia diselamatkan oleh seorang pertapa di puncak Gunung Giok, bagaimana ia dilatih dalam seni bela diri dan racun, bagaimana ia belajar untuk *mengendalikan* ketakutannya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Ia bercerita tentang balas dendam, tentang penderitaan yang akan ditimpakan kepada mereka yang telah merenggut kebahagiaannya. "Mengapa kau melakukan ini?" tanya Pangeran Jian, suaranya putus asa. "Apa salahku padamu?" Mei Lan tertawa, tawa hampa yang menggema di lorong sunyi. "Salahmu? Kau *membiarkannya* terjadi, Yang Mulia. Kau berdiri diam ketika aku diseret ke sungai, ketika fitnah dilontarkan kepadaku, ketika masa depanku dirampas." Pangeran Jian terhuyung mundur. "Aku... aku tidak tahu..." "Kebohongan," desis Mei Lan. "Kau *tahu*. Kau selalu tahu." Ia mengangkat tangannya, sebuah pil hitam kecil berkilauan di telapak tangannya. "Pil ini akan mengakhiri semuanya. Sebuah hadiah dariku untukmu, Yang Mulia. Tidurlah dengan tenang, karena besok, kerajaan ini akan melihat wajah baruku." Pangeran Jian menatap pil itu, lalu menatap Mei Lan. Di matanya, ia melihat bukan lagi gadis yang dulu dicintainya, melainkan **BAYANGAN** yang haus darah, haus kekuasaan. Ia tahu, perlawanan sia-sia. Ia menerima pil itu, menelannya dalam satu tegukan. Saat Pangeran Jian jatuh ke lantai, Mei Lan berlutut di sampingnya. Ia mengusap rambutnya dengan lembut, air mata (atau begitukah yang tampak) mengalir di pipinya. "Kau tahu, Yang Mulia," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak pernah tenggelam. Aku sengaja terjun ke sungai itu. Aku yang mengatur semuanya sejak **AWAL**." Lalu, Pangeran Jian menghembuskan napas terakhirnya. Mei Lan berdiri, membersihkan gaunnya, dan melangkah keluar dari lorong, meninggalkan mayat sang pangeran di belakangnya. Di balik tirai kabut pegunungan, tersembunyi istana lain, lebih megah dan lebih gelap. Di sanalah Mei Lan dibesarkan dan dilatih oleh *Guru*nya, seorang ahli strategi yang haus kekuasaan. Tenggelam di sungai hanyalah drama untuk menipu. Di ujung jalan, sambil berbalik, Mei Lan tersenyum dan tatapannya menusuk. "Ternyata... justru aku yang selama ini mengajarinya *bagaimana* menyiksa."
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Modal Kecil Untung

Share on Facebook