**Aku Mencintaimu dengan Cara yang Salah, Tapi Cinta Tak Pernah Punya SOP** Hujan merintik di atas batu nisan. Bukan rintik biasa, melainkan isak tangis langit yang *sunyi*. Di bawah payung hitam yang basah, berdiri sesosok arwah, Lin Wei. Dulu, ia adalah manusia biasa, seorang pianis dengan jemari yang lincah menari di atas tuts. Sekarang, ia hanyalah bayangan, selubung kabut yang menolak pergi dari dunia yang pernah ia tinggalkan. Dulu, ia mencintai Chen Yi dengan cara yang salah. Terlalu membara, terlalu menuntut. Seperti melodi yang sumbang, cinta mereka tak pernah harmonis. Pertengkaran demi pertengkaran, kata-kata tajam yang terlempar, hingga akhirnya… kecelakaan itu merenggut nyawanya. Tanpa sempat ia mengucapkan kata maaf, atau mengungkap betapa *dalam* cintanya yang sebenarnya. Kini, sebagai arwah, ia kembali. Bukan untuk menghantui, bukan untuk menuntut balas dendam. Ia kembali untuk menuntaskan yang tertinggal. Aroma dupa yang menyengat di kuil keluarga Chen, bayangan lilin yang menari di dinding, semua itu terasa seperti mimpi buruk yang *abadi*. Chen Yi. Sosok itu masih sama. Garis wajahnya lebih tegas, matanya lebih redup, tetapi kesedihan yang memancar darinya membuat hati Lin Wei mencelos. Ia melihat Chen Yi menyentuh foto dirinya yang terpajang di atas meja. Tangannya gemetar. *“Aku… merindukanmu,”* bisik Chen Yi, suaranya serak tertahan. Lin Wei mendekat, berusaha menggapai tangan Chen Yi. Tentu saja, ia tak bisa. Ia hanya arwah. Tapi ia bisa merasakan perih di hatinya semakin menganga. Kebenaran yang tak sempat terucap, cinta yang tak sempat diungkapkan, semua itu menjadi beban yang tak tertahankan. Ia mengamati kehidupan Chen Yi. Sunyi. Sepi. Seperti rumah besar yang kosong tanpa perabotan. Chen Yi bekerja keras, seolah berusaha mengubur rasa sakitnya dalam tumpukan pekerjaan. Ia tak pernah tersenyum. Lin Wei menemukan sepucuk surat di laci meja Chen Yi. Surat itu ditulis oleh dirinya sendiri, beberapa hari sebelum kecelakaan. Di dalamnya, ia menuliskan semua keraguannya, ketakutannya, dan betapa *sangat* ia mencintai Chen Yi. Surat itu tak pernah sampai. Ia mengerti sekarang. Ia tidak kembali untuk menuntut balas dendam. Ia kembali untuk memberikan Chen Yi kedamaian. Untuk menunjukkan bahwa ia mencintai Chen Yi, meskipun dengan cara yang salah. Untuk melepaskan beban yang membelenggu hati Chen Yi. Ia mendekati Chen Yi yang sedang tertidur. Ia membisikkan kata-kata maaf, harapan, dan cinta. Ia berharap Chen Yi bisa mendengarnya, merasakan kehadirannya. Perlahan, kesedihan di wajah Chen Yi mereda. Ia tersenyum tipis dalam tidurnya. Lin Wei tahu, tugasnya sudah selesai. Hujan di atas makam kini terasa lebih tenang, seperti melodi yang syahdu. Ia berbalik, melangkah menjauh dari dunia yang fana. Yang ia cari bukanlah balas dendam, melainkan… … *kedamaian.*
You Might Also Like: Unravel Secrets Of Online Behavior

Share on Facebook