## Cinta yang Menetes dari Luka Lama **Notifikasi** itu berkedip di layar ponselnya, seperti denyut jantung yang tiba-tiba tersengal. Bukan dari siapa-siapa, hanya pengingat untuk *menghapus* foto-foto lama. Maya menghela napas. Hujan kota Jakarta, yang seharusnya menenangkan, justru terdengar seperti ratapan pilu. Aroma kopi yang mengepul dari cangkirnya tak mampu mengalahkan bau kenangan yang menguar dari setiap sudut apartemennya. Dia ingat. Lima tahun lalu. Mereka. Sebuah kisah yang dimulai dari saling *'like'* di Instagram, obrolan larut malam tentang mimpi-mimpi yang melangit, dan berakhir... tanpa akhir. Hilang begitu saja. Seperti pesan yang terlanjur diketik, namun tak pernah terkirim. Rehan. Namanya masih terukir di relung hatinya, seperti tato yang tak bisa dihapus sempurna. Ada sisa-sisa _chat_ mereka di ponsel lama, tersimpan rapi dalam folder bernama "Kenangan Tak Usai." Ia membukanya sesekali, hanya untuk memastikan bahwa ia masih mengingat rasa sakit itu. Rasa kehilangan yang samar, seperti kabut pagi yang perlahan menghilang ditelan mentari. Suatu malam, saat hujan lebih deras dari biasanya, Maya menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah foto yang disembunyikan Rehan di album tersembunyi ponsel lamanya. Seorang wanita. Bukan dirinya. *Seorang wanita hamil.* Dunia Maya terasa runtuh. Jadi, ini alasan kepergiannya? Ini misteri yang selama ini menggerogotinya? Bertahun-tahun ia bertanya-tanya, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak cukup. Bertahun-tahun ia membangun kembali dirinya, menyembuhkan luka-luka yang menganga. Kini, ia tahu kebenarannya. Kebenaran yang pahit, namun membebaskan. **Luka** itu akhirnya *meneteskan* sesuatu yang tak terduga: kekuatan. Maya menemukan Rehan di sebuah acara pameran seni. Ia tahu Rehan akan ada di sana. Ia sudah merencanakan ini. Rehan tampak terkejut melihatnya. Wajahnya pucat. "Maya..." bisiknya, nyaris tak terdengar. Maya tersenyum. Senyum yang tulus, namun menusuk. Senyum yang mengisyaratkan bahwa ia sudah tahu segalanya. Senyum yang mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi peduli. "Rehan," balas Maya, suaranya tenang. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Semoga kamu bahagia." Ia menyerahkan sebuah amplop kecil. Rehan menerimanya dengan bingung. Maya berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh. Di dalam amplop itu, hanya ada satu lembar foto. Foto Maya bersama pasangannya, seorang pria yang sangat mencintainya. Di belakangnya, tertulis satu kalimat: _**"Kehilanganmu adalah awal dari kebahagiaanku."**_ Itulah balas dendamnya. Balas dendam yang lembut, yang tak meninggalkan bekas luka fisik, namun menusuk jauh ke dalam hati. Balas dendam yang membuatnya merasa utuh kembali. Maya melanjutkan langkahnya, menembus keramaian. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, namun ia tahu satu hal: ia sudah bebas. Ia tinggalkan Rehan berdiri terpaku di sana, dengan amplop di tangannya. Ia tinggalkan Rehan dengan penyesalan yang akan menghantuinya selamanya. Ia tinggalkan Rehan... ... *dengan tanya yang takkan pernah terjawab sempurna.*
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Digigit

Share on Facebook