Oke, ini dia cerpen yang kamu minta, terinspirasi dari drama "Pelukan yang Mengantar ke Akhir," dengan bumbu emosi dan simbolisme yang kental: **Bayangan Lentera yang Patah** Hujan menggigil di luar jendela, setiap tetesnya menari-nari di kaca, membentuk labirin air mata. Di dalam ruangan yang remang-remang, hanya cahaya lentera yang nyaris padam menerangi wajah Lin, pucat dan tirus. Di seberangnya, duduklah Kai, pria yang pernah memenuhi dunianya dengan tawa dan janji-janji *kosong*. Sekarang, hanya ada garis keras yang menghiasi wajahnya, seolah pahatan es yang dingin. "Sudah lama, Kai," bisik Lin, suaranya serak tertelan hujan. Kai mengangguk, matanya yang dulu berbinar kini hanya memancarkan kehampaan. "Sepuluh tahun." Sepuluh tahun sejak pengkhianatan itu. Sepuluh tahun sejak Lin menemukan Kai, berpelukan dengan wanita lain di bawah pohon sakura yang sedang mekar. Sepuluh tahun sejak hatinya retak menjadi serpihan yang tak mungkin lagi disatukan. "Kau terlihat baik," lanjut Kai, basa-basi yang menyakitkan. Lin tertawa hambar. "Baik? Kau tahu, Kai, 'baik' adalah kata yang *sangat* relatif." Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hujan semakin deras, seolah alam pun turut berduka. Bayangan mereka di dinding, diterangi lentera yang sekarat, tampak *patah* dan terpisah. Lin bangkit, berjalan mendekati jendela. "Dulu, aku membayangkan kita akan menikah di bawah hujan seperti ini. Indah, bukan?" Kai tidak menjawab. Lin berbalik, menatap Kai dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan, ada amarah, tapi yang paling jelas adalah tekad yang membara. "Kau tahu, Kai," kata Lin pelan, "aku selalu percaya pada karma. Apa yang kau tabur, itu yang akan kau tuai." Kai mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Lin tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Malam itu, di bawah pohon sakura… aku tidak hanya melihat kau berpelukan dengan Mei. Aku juga mendengar semua rencana kalian… tentang bagaimana kau akan memanfaatkan perusahaanku, lalu meninggalkanku dalam kehancuran." Wajah Kai memucat. "Lin… aku bisa menjelaskan…" Lin mengangkat tangannya, menghentikannya. "Tidak perlu. Semua sudah terbayar lunas. Perusahaanmu… *bangkrut*. Mei… *meninggalkanmu*. Dan sekarang… kau di sini, di hadapanku, memohon ampun." Kai terhuyung mundur, tubuhnya gemetar. "Kau… kau yang melakukan semua ini?" Lin mengangguk. "Setiap tetes air mata yang kutangisi, setiap malam tanpa tidur yang kuhabiskan, semua itu aku jadikan bahan bakar untuk *BALAS DENDAM*." Cahaya lentera akhirnya padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan. Hanya suara hujan yang menggila, menutupi suara isak Kai. Lin mendekat, membungkuk di hadapan Kai. Bisikannya pelan, namun mematikan. "Kau tahu, Kai… Mei tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya… *"bagian dari rencanaku selama ini."*
You Might Also Like: Harus Baca Bayangan Yang Menjadi Cahaya
Share on Facebook