Oke, ini dia kisah modern Dracin dengan sentuhan puitis yang Anda minta: **Kau Menatapku Tanpa Takut, Padahal Semua Orang Menunduk di Hadapanku** Hujan kota luruh di jendela apartemen Jiayi, memburamkan lampu-lampu yang berkedip bagai kunang-kunang digital. Aroma kopi pahit menari di udara, bercampur dengan sisa parfum *sandalwood* yang samar—aroma yang dulu selalu melekat pada tubuhnya, pada setiap *pelukan* singkat di tengah hiruk pikuk kota. Notifikasi dari grup kantor berkedip-kedip di layar ponsel, tapi Jiayi mengabaikannya. Matanya terpaku pada *chat* terakhir dari Ren, yang tak pernah terkirim. Tiga titik abu-abu yang tak pernah berubah menjadi baris pesan yang nyata. Tiga titik yang menjadi simbol *kehilangan*-nya. Ren, dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Ren, yang berani menatapnya *tanpa takut*, padahal di dunia korporat yang kejam ini, semua orang menunduk di hadapannya. Direktur muda yang dingin, pewaris tunggal kerajaan bisnis, namun di balik topeng kesempurnaannya, Jiayi melihat luka yang sama. Luka yang disembunyikan di balik senyum sinis dan aura kekuasaan. Dulu, mereka bertemu di tengah *deadline* yang membunuh, lembur hingga dini hari, saling berbagi kode yang rumit dan mimpi yang sederhana. Cinta mereka tumbuh di antara notifikasi yang berdering, di sela-sela *meeting* yang membosankan, di antara deru mesin kopi dan tatapan curi-curi yang penuh arti. Tapi kemudian, semuanya berubah. Sebuah rahasia terbongkar. Sebuah pengkhianatan. Bukan dari Ren, tapi dari orang terdekat Jiayi, yang diam-diam bekerja untuk menjatuhkan keluarga Ren. Jiayi harus memilih. Cinta atau loyalitas. Dia memilih loyalitas, tapi kehilangan Ren. Sekarang, setelah berbulan-bulan, Jiayi mengetahui kebenarannya. *Semua* kebenaran. Orang yang mengkhianati Ren ternyata adalah…ayahnya sendiri. Ayahnya, yang rela melakukan apapun demi ambisi pribadi. Marah, hancur, dan *teramat* kecewa, Jiayi merencanakan *balas dendam*nya. Bukan dengan teriakan atau air mata, tapi dengan senyuman dingin dan perhitungan yang matang. Dia menemui Ren di kantornya, di ruangan yang dulu terasa begitu hangat, sekarang terasa dingin dan asing. Ren menatapnya dengan tatapan yang sama—tatapan yang *mencintai dan membenci* sekaligus. "Aku tahu semuanya," kata Jiayi, suaranya tenang namun mematikan. "Ayahku yang…melakukan itu semua." Ren hanya diam, matanya menunjukkan kilatan terluka. Jiayi mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi *trading saham*, dan *menjual* seluruh saham perusahaan ayahnya. Di hadapan Ren, dia menghancurkan bisnis ayahnya, satu per satu. Tanpa ampun. Kemudian, dia tersenyum. Senyum *terakhir*. "Ini…untukmu," bisiknya, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Ren yang terpaku di tempatnya. Beberapa hari kemudian, Jiayi menerima pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Hanya satu kata: "Terima kasih." Jiayi menghapus pesan itu dan membuang kartu SIM-nya. Dia meninggalkan kota, memulai hidup baru di tempat yang jauh, tempat di mana *tidak ada* notifikasi, *tidak ada* hujan kota, dan *tidak ada* aroma kopi yang mengingatkannya pada Ren. Dia meninggalkan semuanya. Kecuali satu hal: kenangan tentang tatapan Ren yang *tidak pernah takut*. Dia pergi, meninggalkan dunia dengan satu pertanyaan yang menggantung di udara: Apa yang akan terjadi jika mereka bertemu lagi? …Dan apakah tatapan Ren akan sama?
You Might Also Like: 148 Do Radon Levels Change Over Time
Share on Facebook