Baiklah, inilah kisah dracin emosional yang Anda minta, dengan sentuhan puitis dan pisau tersembunyi: **Kau Menyebut Namaku Pelan, dan Seluruh Dunia Berhenti Sejenak** Kabut pagi menyelimuti Kota Terlarang, sehalus kerudung yang menyembunyikan rahasia. Di tengahnya, Li Wei, *anak haram* yang disembunyikan di balik gelar 'Putra Mahkota', menjalani hidupnya dalam jaring kebohongan. Setiap senyumnya adalah topeng, setiap kata adalah perhitungan. Ia terlatih untuk menipu, untuk memanipulasi, untuk berkuasa. Lalu datanglah Mei Hua, seorang tabib desa dengan mata setajam elang dan hati sekeras batu giok. Ia datang ke istana bukan untuk mengabdi, melainkan untuk mencari kebenaran tentang kematian ayahnya, seorang jenderal yang dituduh berkhianat. Kebenaran yang ia yakini terkubur dalam istana ini, dalam senyum *beracun* Putra Mahkota. "Li Wei," bisiknya suatu malam di taman rahasia, suaranya nyaris tak terdengar di antara desiran angin. Nama itu meluncur dari bibirnya seperti belati yang baru diasah. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu." Li Wei tersenyum tipis, matanya berkilat bagai pecahan es. "Kebenaran itu seperti bunga sakura, Mei Hua. Indah, tapi mudah layu jika dipetik terlalu dini." Pertemuan mereka adalah tarian yang berbahaya. Li Wei berusaha memikat Mei Hua ke dalam jaringnya, menggunakan pesona palsu dan janji-janji kosong. Sementara Mei Hua, dengan keteguhan yang membara dalam dadanya, terus menggali, menemukan serpihan-serpihan kebenaran yang menyakitkan. Ia menemukan surat-surat rahasia, saksi bisu yang dibungkam, dan petunjuk yang mengarah langsung pada Li Wei. Konflik memuncak di malam festival lampion. Mei Hua, dengan bukti yang ia kumpulkan, menghadapi Li Wei di depan seluruh istana. "Ayahku tidak bersalah! Kau yang menjebaknya! Kau membunuhnya!" Keheningan menyelimuti kerumunan. Li Wei terdiam, topengnya akhirnya retak. Di matanya, Mei Hua melihat kilatan **KEMARAHAN** dan... ketakutan? "Kau tidak tahu apa yang telah kulakukan untuk melindungi… *semuanya*," desis Li Wei, suaranya bergetar. Namun, kebenaran tak bisa lagi disembunyikan. Para saksi yang selama ini takut, akhirnya berani bersuara. Kebohongan Li Wei terkuak, menguburnya di bawah reruntuhan istananya sendiri. Hukuman dijatuhkan. Li Wei diasingkan, semua gelarnya dicabut. Mei Hua berdiri di gerbang istana, menatap kepergian Li Wei. Tidak ada kegembiraan di matanya. Ia hanya merasakan kehampaan. Ia telah mendapatkan kebenaran, namun kebenaran itu menghancurkannya. Beberapa tahun kemudian, terdengar kabar bahwa Li Wei, dalam pengasingannya, telah membangun kekuatan baru, membentuk pasukan pemberontak yang siap menggulingkan kekaisaran. Namun, Mei Hua tak pernah melihatnya lagi. Ia memilih kembali ke desanya, menyembuhkan luka-luka dan merawat kebun kecilnya. Suatu sore, saat matahari terbenam, seorang pengantar surat datang. Ia menyerahkan sepucuk surat tanpa nama kepada Mei Hua. Di dalamnya hanya tertulis satu kalimat: "Senyummu adalah satu-satunya *penyesalanku*." Mei Hua tersenyum tipis, senyum yang menyimpan perpisahan abadi. Lalu ia membakar surat itu, abunya berterbangan bersama angin senja. …Apakah penyesalan itu tulus, ataukah hanya bagian dari permainan yang lebih besar?
You Might Also Like: 0895403292432 Beli Skincare Terbaik
Share on Facebook