Harus Baca! Cinta Yang Bersembunyi Dalam Lagu Lama
Cinta yang Bersembunyi Dalam Lagu Lama
Senja di Shanghai memerah, menelan gedung-gedung pencakar langit dalam kegelapan. Di balkon apartemen mewah, berdiri Lian, dengan gaun sutra merah membara. Matanya yang tajam, sedingin intan, menatap ke arah Sungai Huangpu yang berkelip. Di tangannya, tergenggam erat gelas berisi anggur merah.
"Ah, malam yang indah, bukan, Gege?" Lian menyapa tanpa menoleh.
Dari balik bayangan, muncul Bai, dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. Senyum yang Lian tahu, adalah topeng belaka. Mereka tumbuh bersama, seperti dua batang bambu yang saling berpegangan di terpaan angin. Atau begitulah, dulu.
"Memang indah, Meimei. Seindah lagu lama yang dulu sering kita nyanyikan," jawab Bai, suaranya lembut namun menyimpan nada yang sulit diartikan.
Lian mendengus. "Lagu itu… hanyalah kebohongan. Seperti semua yang kau lakukan."
"Kebohongan? Lian, apa yang kau bicarakan?" Bai berpura-pura terkejut, matanya memancarkan kepolosan yang dipaksakan.
"Jangan berakting lagi, Bai. Aku tahu. Aku TAHU semuanya!" Lian berbalik, anggurnya tumpah membasahi lantai. "Kau… kau membunuh Ayah. Demi kekuasaan, demi tahta keluarga kita!"
Wajah Bai berubah. Senyumnya lenyap, digantikan ekspresi dingin yang menusuk. "Ayah? Mati karena sakit jantung. Itu faktanya, Lian. Kau terlalu banyak berimajinasi."
"Tidak! Aku melihatnya. Malam itu… aku melihatmu memberinya racun!" Lian berteriak, air mata mengalir deras di pipinya. Ingatan malam itu, bagai belati yang menusuk-nusuk jantungnya.
Bai mendekat, langkahnya tenang namun mengancam. "Kau… seorang gadis kecil yang trauma. Kau salah lihat."
"Salah lihat? Lalu bagaimana dengan surat wasiat yang tiba-tiba berubah? Bagaimana dengan seluruh bisnis yang beralih ke tanganmu hanya dalam semalam? Kau pikir aku bodoh?!"
Bai meraih tangan Lian, mencengkeramnya erat. "Dengar, Lian. Aku melakukan ini untuk keluarga kita. Untuk MELINDUNGI kita!"
"Melindungi? Dengan MEMBUNUH? Dengan MENGKHIANATI?" Lian menarik tangannya kasar. "Aku bersumpah, Bai. Aku akan membalas dendam. Kau akan membayar atas semua yang telah kau lakukan!"
"Balas dendam? Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Aku telah mengendalikan segalanya, Lian. Semuanya!" Bai tertawa sinis.
Tiba-tiba, Lian mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik gaunnya. Cahaya bulan memantul di bilahnya yang tajam. "Tidak ada yang bisa mengendalikan dendam, Bai. Dendam… adalah api yang tidak bisa dipadamkan."
Dengan gerakan cepat, Lian menusukkan pisau itu ke perut Bai. Pria itu terhuyung ke belakang, darah merembes di kemejanya.
"Kau… GILA!" Bai terbatuk, darah muncrat dari mulutnya.
"Ya, mungkin aku gila. Gila karena mencintaimu… dan gila karena membencimu," bisik Lian, air matanya kembali membasahi pipi.
Bai menatap Lian, matanya memancarkan campuran antara amarah dan kekecewaan. "Lian… kenapa…?"
Lian berlutut di samping Bai, meraih tangannya yang dingin. "Aku tidak punya pilihan. Kebenaran… harus ditegakkan."
Saat napas terakhir Bai terhembus, Lian membisikkan satu kalimat yang menggantung di udara, sebuah pengakuan terakhir sebelum kematian menjemputnya, "Mungkin… kita memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan."
You Might Also Like: Kisah Populer Janji Yang Kubawa Ke