Drama Seru: Senyum Yang Mengantarku Ke Penyesalan
Senyum yang Mengantarku ke Penyesalan
Lampu-lampu kota Shanghai berpendar bagai kunang-kunang yang berjatuhan, memantul di Sungai Huangpu yang tenang. Di balkon apartemen mewahku, aku menyesap teh oolong, aroma melati dan kekecewaan pahit bercampur dalam setiap tegukan. Lima tahun. Lima tahun aku mencintainya, memberikan segalanya, dan akhirnya… menemukan kehancuran di balik senyumnya.
Aku mengingatnya, Lin Yi. Pertama kali bertemu dengannya di pameran seni. Senyumnya merekah, menghangatkan jiwa yang selama ini beku. Ia melukis dengan jiwanya, menuangkan seluruh perasaannya ke kanvas. Aku jatuh cinta pada ketulusan, pada semangatnya yang membara, pada ilusi kesempurnaan yang ia tawarkan.
Pelukannya. Dulu, terasa seperti rumah. Sekarang, aku tahu, hanya racun manis yang perlahan membunuhku. Bibirnya mengucap janji setia, janji yang kini bagai belati, menikam setiap sudut hatiku yang rapuh.
Aku tahu. Aku tahu tentang perempuan itu. Tentang senyumnya yang sama, tentang lukisan yang serupa, tentang janji yang diulang untuk orang lain. Aku tahu, tapi aku memilih untuk percaya. Kebodohan seorang wanita yang dibutakan cinta.
Namun, aku bukanlah wanita lemah. Aku bukan boneka porselen yang mudah pecah. Aku adalah Xu Mei Lan, pewaris kekaisaran bisnis keluarga Xu, dan aku akan membalas. Bukan dengan darah, bukan dengan air mata, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: penyesalan.
Perlahan, dengan gerakan yang anggun dan mematikan, aku menarik semua investasiku dari perusahaan Lin Yi. Aku mencabut setiap akar yang menahannya di puncak. Aku memastikan setiap pintu kesempatan tertutup rapat di hadapannya. Aku melakukan semuanya dengan senyum di bibir, senyum yang dulu hanya untuknya.
Tidak ada konfrontasi, tidak ada teriakan, hanya kehancuran yang tenang dan sistematis. Aku melihatnya hancur, dari jauh. Kehilangan itu terukir di wajahnya, jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau. Ia mencoba menghubungiku, memohon, meminta maaf. Tapi aku hanya membisikkan melalui telepon, "Dulu, aku mencintaimu. Sekarang, aku hanya merasa…kasihan."
Aku mengakhiri semuanya dengan menjual seluruh saham perusahaannya kepada pesaing terbesarnya. Perusahaan yang dulunya adalah kebanggaannya kini menjadi debu. Ia kehilangan segalanya.
Malam ini, aku berdiri di sini, di balkon ini, merasakan angin Shanghai membelai wajahku. Aku menang. Aku telah membalas dendam. Tapi mengapa… hatiku terasa begitu kosong? Kemenanganku terasa pahit.
Aku meletakkan cangkir teh. Mungkin, suatu hari nanti, ia akan mengerti. Mungkin, suatu hari nanti, ia akan menyadari besarnya cinta yang ia sia-siakan. Tapi saat itu, semua sudah terlambat.
Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama, bukan?
You Might Also Like: 143 Gourmet Picnic Delights By Bay