Harus Baca! Ia Mencintaiku Seperti Menyentuh Api — Hangat, Tapi Mematikan
Ia Mencintaiku Seperti Menyentuh Api — Hangat, Tapi Mematikan
Aula Emas Istana Chang'an bergemuruh. Bukan dengan tawa bahagia, melainkan dengan gema sepatu bot para pejabat yang KAKU dan bisik-bisik yang bagaikan ULAR melata di balik tirai sutra berwarna darah. Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri selir kesayangan Kaisar, Mei Lan. Kecantikannya memukau, namun matanya menyimpan lautan RAHASIA.
Kaisar, Li Wei, menatapnya dari singgasana. Cinta di matanya NYATA, namun juga dibutakan oleh kekuasaan. Ia mencintai Mei Lan, seperti ia mencintai kekuasaannya — mutlak dan tak terbagi. Mei Lan adalah api baginya, menghangatkan di tengah dinginnya intrik istana, namun juga berpotensi membakar habis kerajaannya.
"Mei Lan," suara Kaisar memecah keheningan. "Katakan padaku, siapa yang bisa kupercayai?"
Mei Lan tersenyum tipis. "Hanya dirimu sendiri, Yang Mulia." Janji itu bagaikan PEDANG bermata dua. Cinta mereka adalah permainan takhta. Setiap sentuhan, setiap bisikan, adalah kalkulasi. Setiap malam yang dihabiskan bersama, adalah langkah dalam dansa mematikan.
Mei Lan tahu, ia hanyalah bidak di papan catur kekaisaran. Seorang yatim piatu yang diangkat ke istana karena kemiripannya yang mencolok dengan mendiang Permaisuri. Ia dilatih, dipersiapkan, untuk menjadi boneka Kaisar. Tapi, Mei Lan memiliki rencana lain.
Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan informasi, mengamati, dan menunggu. Ia melihat bagaimana para selir lain hancur, dimanipulasi, dan dibuang. Ia melihat bagaimana kekuasaan membutakan Kaisar, membuatnya rentan terhadap pengkhianatan. Dan ia memanfaatkan itu.
Pada malam puncak, saat Kaisar lengah, setelah meneguk anggur beracun yang disuguhkan Mei Lan, ia tersenyum pahit. "Kau… kau mencintaiku?"
Mei Lan berlutut, air mata mengalir di pipinya. "Ya, Yang Mulia. Aku mencintaimu seperti menyentuh api. Hangat… tapi mematikan."
Kaisar terhuyung, napasnya tersengal. Ia menatap Mei Lan dengan KEKECEWAAN dan kemarahan. Namun, terlambat. Racun itu bekerja dengan cepat.
Saat Kaisar jatuh tersungkur, Mei Lan berdiri. Ia menatap para pejabat yang terkejut dan ketakutan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuasaan mengalir dalam nadinya. Ia bukan lagi selir kesayangan, bukan lagi bidak. Ia adalah RATU.
Dengan suara dingin dan elegan, Mei Lan mengumumkan: "Yang Mulia telah mangkat. Akan ada perubahan."
Balas dendam yang telah lama direncanakan akhirnya tiba. Dingin, elegan, dan mematikan.
Keesokan harinya, di Aula Emas yang sama, Mei Lan duduk di singgasana Kaisar. Bukan sebagai selir, melainkan sebagai penguasa. Ia menatap ke luar jendela, melihat fajar menyingsing di atas istana yang kini menjadi miliknya.
Dan di bawah tatapannya yang penuh perhitungan, SEJARAH baru saja menulis ulang dirinya sendiri…
You Might Also Like: Duck Dynasty Unlocking Colorados Early