Cerpen: Kau Menatapku Dari Kejauhan, Tapi Jarak Itu Lebih Tajam Dari Pedang
Kau Menatapku dari Kejauhan, Tapi Jarak Itu Lebih Tajam dari Pedang
Langit kota ini berkarat. Sinar oranye palsu menyiram gedung-gedung yang rapuh, seperti janji yang tak ditepati. Di atap sebuah apartemen reot, Ah Lian berdiri. Matanya menyipit, menerobos kabut digital yang menyelimuti cakrawala. Dia mencarinya. Seperti biasa.
"Ah Lian, makan malam!" suara ibunya, sayup-sayup dari dalam. Tapi Ah Lian tak bergeming. Dia tahu, di suatu tempat, di antara celah waktu yang berdenyut, ada dia.
Dia adalah Kai, seorang arkeolog digital dari masa depan yang entah berantah. Mereka bertemu, bukan secara fisik, tentu saja. Pertemuan mereka adalah serangkaian glitch dalam sistem komunikasi kuno, pesan-pesan yang terselip di antara data yang korup.
"Kau di mana, Kai?" bisik Ah Lian, jarinya mengetuk-ngetuk ponsel retaknya. Layar itu berkedip, menampilkan: SEDANG MENGETIK... Lalu, lenyap. Seperti harapan.
Kai, di dunianya yang serba krom dan neon, duduk di depan konsol kuno. Debu digital beterbangan di sekelilingnya. Dia sedang mencoba, lagi dan lagi, untuk mengirimkan sinyal ke masa lalu. Ke Ah Lian.
"Aku di sini, Ah Lian! Aku SELALU di sini!" teriak Kai pada mikrofon usang. Suaranya pecah, hancur menjadi bit-bit data yang tak bermakna. Dia bisa melihatnya, melalui celah waktu yang berdenyut. Ah Lian, berdiri di atap. Merindukannya.
Mereka saling jatuh cinta melalui echo kehidupan. Ah Lian menceritakan tentang mie ayam gerobak yang rasanya seperti nostalgia, tentang konser dangdut yang membuat jantungnya berdebar. Kai bercerita tentang pohon-pohon holografik yang menumbuhkan buah data, tentang sungai-sungai yang mengalirkan informasi.
Tapi cinta mereka terlarang. Dunia mereka terpisah oleh jurang waktu yang tak terhingga. Setiap upaya komunikasi semakin menggerogoti garis waktu itu sendiri.
Suatu malam, Ah Lian menerima sebuah pesan. Bukan dari Kai. Tapi dari sebuah entitas tak dikenal.
"Gema. Kalian hanyalah gema dari sebuah kehidupan yang tak pernah selesai. Sebuah cinta yang terhapus dari sejarah."
Ah Lian terdiam. Lalu dia menatap langit berkarat itu. Dia mengerti. Kai juga pasti mengerti. Mereka adalah potongan-potongan memori, terjebak dalam lingkaran yang tak berujung.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Kai.
"Ah Lian... AKU..."
Layar itu padam. Dunia di sekitarnya mulai berkedip-kedip. Semua suara menghilang. Ah Lian menutup matanya.
...jangan lupakan aku, oke?
You Might Also Like: New 2026 Chevrolet Colorado Release