Wajib Baca! Air Mata Yang Menjadi Simbol Kekalahan
Dunia retak bukan karena perang nuklir, tapi karena algoritma yang salah. Sinyal putus-putus bagai jantung yang kelelahan. Cinta tumbuh di celah-celah itu, seperti lumut di tembok penantian.
Xiao Mei, dengan rambut dikepang dua dan gaun bunga yang entah bagaimana selalu tampak baru, hidup di tahun 2045. Ia memandang langit, bukan mencari matahari, tapi mencari sinyal. Sinyal yang akan menghubungkannya dengan seseorang yang hanya ia kenal dari fragmen memori yang bocor dari internet kuno.
"Lin Wei," bisiknya pada udara yang terasa logam. Nama itu terasa asing sekaligus familiar, seperti melodi yang pernah didengarnya dalam mimpi.
Di dimensi lain, 2005, Lin Wei duduk di bawah pohon sakura yang mekar penuh. Chatting dengan nama samaran 'XiaoMei2045' terasa aneh, seperti berbisik pada hantu masa depan. Ia tertawa getir. Masa depan? Baginya, masa depan adalah ujian masuk universitas, bukan cerita fiksi ilmiah tentang koneksi lintas waktu.
"Aku merasa mengenalmu selamanya," ketiknya, lalu ragu. HAPUS.
"Menurutmu, apa arti cinta?" Ia malah bertanya demikian.
Balasan dari 'XiaoMei2045' membuatnya tertegun: "Cinta adalah air mata yang tidak pernah jatuh, tapi terasa seperti sungai yang mengalir di dalam jiwa."
Mereka saling mencari, Xiao Mei di labirin data masa depan, Lin Wei di hutan kenangan masa lalu. Mereka saling mengirim pesan, terputus, tersendat, seperti dua pesawat kertas yang terbang di badai.
Suatu malam, Xiao Mei menemukan sebuah artikel kuno. Judulnya: "Proyek Chronos: Percobaan Komunikasi Lintas Waktu yang Gagal." Di dalamnya, terpampang foto Lin Wei, seorang ilmuwan muda yang sedang tersenyum. Di bawah foto itu, tertulis: "Meninggal dunia akibat kecelakaan laboratorium pada tahun 2006."
KECELAKAAN?
Xiao Mei terhuyung. Air mata akhirnya jatuh, bukan sebagai simbol cinta, tapi sebagai simbol kekalahan. Selama ini, ia berbicara dengan echo, dengan gema dari kehidupan yang tak pernah benar-benar ia miliki. Lin Wei sudah lama tiada. Cinta mereka… hanya proyeksi algoritma yang bertujuan untuk menyambungkan dua jiwa yang putus asa.
Di sisi lain, Lin Wei menatap layar laptopnya yang berkedip-kedip. Pesan terakhir dari 'XiaoMei2045' belum terkirim, terjebak di status "sedang mengetik..."
Ia menghela napas. Sakura berjatuhan, menutupi layar laptopnya dengan kelopak merah muda. Ia menutup laptopnya.
Air mata adalah simbol kekalahan, dan keheningan adalah… akhir yang belum selesai…?
You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original