Kisah Populer: Aku Menulis Surat Untukmu, Tapi Angin Menertawakannya
Hujan di atas makam terasa seperti air mata langit yang tak pernah kering. Dinginnya meresap ke dalam tanah, mencapai akar pohon tua yang menjadi saksi bisu bisikan-bisikan putus asa. Di sana, di bawah bayangannya yang keras kepala menolak bergeser meski matahari sudah tinggi, aku berdiri. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai bayangan, sebuah gema dari kehidupan yang dipangkas terlalu dini.
Tanganku, yang kini tembus pandang, gemetar memegang selembar kertas. Surat. Surat yang seharusnya kusampaikan bertahun-tahun lalu. Kata-kata yang seharusnya kuucapkan sebelum kegelapan merenggutku. Tapi, terlambat. Selalu terlambat.
Angin berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut yang tak lagi bisa kurasakan. Desirannya terdengar seperti tawa mengejek, seolah alam semesta menertawakan kebodohanku. Aku menulis surat untukmu, tapi angin menertawakannya. Sungguh ironi yang pahit.
Aku kembali. Bukan untuk balas dendam. Bukan untuk menuntut keadilan. Aku kembali untuk menuntaskan. Ada benang yang terputus, simpul yang belum terikat, dan kebenaran yang terkubur di bawah lapisan kebohongan dan kesalahpahaman. Aku harus menemukannya.
Setiap malam, aku mengembara. Menyusuri lorong-lorong rumah tua yang menyimpan kenangan pahit manis. Melihat wajah-wajah yang dulu kukenal, kini dipenuhi kerutan dan kesedihan. Mereka tidak melihatku. Mereka tidak mendengarku. Aku hanyalah debu, bisikan angin, bayangan di sudut ruangan.
Aku mengamati dia. Orang yang seharusnya menjadi belahan jiwaku, namun malah menjadi penyebab kehancuranku. Wajahnya dihiasi kesedihan yang sama dalamnya denganku. Apakah dia menyesal? Apakah dia tahu kebenaran yang sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benakku seperti mantra yang tak berujung.
Semakin lama aku berada di sini, semakin aku menyadari bahwa kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah peralihan. Dari satu dunia ke dunia lain. Dari satu bentuk ke bentuk lain. Dan di dunia ini, di antara hidup dan mati, aku belajar tentang pengampunan. Tentang melepaskan. Tentang menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak bisa diubah.
Akhirnya, aku menemukannya. Bukan di dalam surat, bukan di dalam ingatan, melainkan di dalam hatiku. Kedamaian. Bukan balas dendam yang aku cari, melainkan kedamaian untuk diriku sendiri, dan juga untuknya. Aku ingin membebaskannya dari beban rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.
Aku mendekatinya, meskipun aku tahu dia tidak bisa melihatku. Aku membisikkan kata-kata maaf dan pengertian ke telinganya. Aku meletakkan surat itu di samping bantalnya, berharap angin malam akan membawanya ke dalam mimpinya.
Malam itu, hujan berhenti. Bayangan di bawah pohon tua menghilang. Dan aku… aku merasa ringan. Bebas.
Mungkin, akhirnya, aku bisa pergi dengan tenang…
You Might Also Like: Unlocking David Hoffmans