## Cinta yang Mengirim Surat dari Dunia Lain Langit Jakarta, tahun 2042, terasa seperti *error* permanen. Kabut neon menyala dan mati, memantulkan cahaya *pixel* di wajah Lin. Jarinya menari di atas layar holografis, mencari sinyal di antara desisan statis. Di sebuah forum *digital afterlife*, dia bertemu seorang pria bernama Aris. Aris mengaku hidup di tahun 1998. Awalnya Lin mengira ini lelucon. Tapi kata-kata Aris, meski terdistorsi oleh latensi waktu, terasa...nyata. Dia menceritakan tentang walkman, tentang kaset Sheila On 7 yang diputar berulang-ulang, tentang langit biru tanpa filter instagram. Kontras sekali dengan realita Lin yang penuh *glitch*. "Bayangkan, Lin, matahari terbit tanpa perlu aplikasi *sunrise simulator*," tulis Aris, pesannya muncul dengan jeda hampir satu menit. Rasanya seperti menerima surat dari ***keabadian***. Lin membalas, menceritakan tentang drone pengantar makanan yang gagal mendarat di balkonnya, tentang kopi sintesis rasa alpukat, tentang kesepian di tengah keramaian *metaverse*. Percakapan mereka menjadi ritual. Di tengah dunia yang retak, di mana manusia lebih akrab dengan avatar daripada tetangga sebelah, mereka menemukan titik terang. Cinta tumbuh di antara sinyal hilang dan *chat* yang berhenti di 'sedang mengetik'. Cinta yang absurd. Cinta yang mungkin hanya *bug* dalam *matrix*. Suatu malam, Aris mengirimkan pesan aneh. "Lin, aku menemukan foto kita. Di album lama. Tapi...kita masih kecil. Kita tidak saling kenal." Lin terpaku. Dia menelusuri *neural network*, menggali data sejarah yang terlupakan. Dia menemukan arsip proyek eksperimen waktu. Sebuah program rahasia yang mencoba menjalin komunikasi antar dimensi. Dan di situlah...terungkap. Mereka berdua adalah subjek uji. Terjebak dalam *loop* waktu yang diciptakan oleh para ilmuwan gila. Cinta mereka bukanlah takdir, melainkan ***GEMA*** dari kehidupan yang tak pernah selesai. Sebuah simulasi yang diprogram untuk terus berulang. Lin menemukan koordinat *server* utama proyek itu. Sebuah bunker tersembunyi di bawah reruntuhan Yogyakarta. Dia mengirimkan pesan terakhir untuk Aris: "Aku tahu kebenarannya. Kita bukan..." Namun, sebelum Lin menyelesaikan kalimatnya, listrik padam. Layar holografisnya mati. Dunia di sekitarnya berubah menjadi kegelapan total. Hanya ada satu kalimat yang terlintas di benaknya, sebelum semuanya menghilang: *Mungkin, di dimensi lain, kita akan bertemu sebagai manusia, bukan sebagai data.*
You Might Also Like: Produk Skincare No Alkohol Dan No

Share on Facebook