Baik, ini dia kisah dracin berjudul 'Aku Mencintaimu dalam Kebisuan, Tapi Kebisuan Itu Menjerit': **Aku Mencintaimu dalam Kebisuan, Tapi Kebisuan Itu Menjerit** Hujan menyelimuti Bukit Sunyi. Rintiknya jatuh berirama di atas nisan usang, serupa melodi pilu yang menemani kesunyian abadi. Di antara kerumunan bunga krisan putih yang layu, sosoknya berdiri. Bukan manusia, melainkan bayangan yang terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Itulah *Lin Wei*, arwah yang terperangkap antara dunia fana dan dunia baka. Dulu, Lin Wei adalah seorang pria dengan senyum sehangat mentari pagi. Namun, senyum itu direnggut paksa oleh takdir, menyisakan luka menganga di hati *Qing Yue*, wanita yang diam-diam dicintainya. Kecelakaan tragis telah merenggut nyawanya, membawanya pergi sebelum sempat mengucapkan tiga kata keramat itu: Aku mencintaimu. Kini, ia kembali. Bukan untuk balas dendam, meski desas-desus tentang intrik dan pengkhianatan mengotori pusaranya. Lin Wei kembali untuk sebuah **KEBENARAN**, untuk menuntaskan bisikan hatinya yang tak pernah terucap. Malam demi malam, ia mengembara di antara bayang-bayang. Rumah Qing Yue menjadi tujuannya. Ia melihat wanita itu, matanya sayu, bahunya bergetar. Duka menyelimutinya seperti kabut tebal yang enggan pergi. Lin Wei ingin memeluknya, menghapus air matanya, mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi, tangannya hanya menembus tubuh Qing Yue, meninggalkan rasa sakit yang tak tertahankan. *Setiap helaan napas Lin Wei adalah doa yang tak selesai.* Setiap langkahnya adalah usaha untuk mendekati Qing Yue, untuk berbisik di telinganya bahwa cintanya abadi. Namun, bisikan itu hanya bergema dalam kebisuan, menjadi jeritan yang tak terdengar. Ia mengikuti Qing Yue dalam diam. Melihatnya berjuang melewati hari-hari yang kelabu, menelusuri petunjuk yang ditinggalkannya sebelum kematian. Sebuah buku harian usang, foto-foto yang tersimpan rapi, dan sebuah melodi piano yang selalu mereka mainkan bersama. Semua itu adalah jembatan yang menghubungkan dunia mereka, meskipun terpisahkan oleh jurang yang tak kasat mata. Suatu malam, Qing Yue menemukan surat terakhir dari Lin Wei. Surat itu bukan tentang intrik atau pengkhianatan, melainkan tentang **CINTA**. Tentang bagaimana Lin Wei selalu mengaguminya dari jauh, tentang bagaimana keberadaannya menjadi alasan untuk terus tersenyum, dan tentang bagaimana ia menyesal tak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Qing Yue menangis tersedu-sedu. Air matanya membasahi surat itu, melarutkan tinta yang telah mengering. Di saat itulah, Lin Wei merasakan beban di dadanya terangkat. *Kebisuan itu perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang mendalam.* Ia melihat Qing Yue tersenyum di antara isak tangisnya. Senyum yang akhirnya membebaskannya. Misteri pun terkuak. Bukan balas dendam yang Lin Wei cari, melainkan kedamaian. Kedamaian untuk dirinya sendiri, dan kedamaian untuk wanita yang dicintainya. Ia ingin Qing Yue tahu bahwa cintanya tulus, bahwa ia tak pernah menyesal mencintainya, meski dalam kebisuan. Saat fajar menyingsing, bayangan Lin Wei perlahan memudar. Hujan di Bukit Sunyi mereda, digantikan oleh sinar matahari yang hangat. Ia telah menyelesaikan tugasnya. Ia telah menuntaskan bisikan hatinya. Dan saat ia benar-benar menghilang, bibirnya sedikit terangkat, seolah... ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: Acessorios Para Usar Com Vestidos

Share on Facebook