Oke, ini dia kisah dracin pendek dengan sentuhan misteri, intrik, dan pengkhianatan, berjudul 'Senyum yang Menutup Pintu Neraka': **Senyum yang Menutup Pintu Neraka** Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Tai, menyelimuti Kuil Giok Bening bagaikan mimpi buruk yang tak berkesudahan. Angin berdesir pelan, membisikkan rahasia purba yang tak berani diucapkan oleh bibir manusia. Di dalam kuil, di aula utama yang remang-remang, duduk seorang pria. Wajahnya teduh, nyaris tanpa ekspresi, namun matanya menyimpan samudra kesedihan dan dendam. Ia adalah Li Wei, yang sepuluh tahun lalu dinyatakan tewas dalam kebakaran misterius. "Kembalinya Anda... mengejutkan," suara seorang wanita memecah keheningan. Ia adalah Permaisuri Lian, janda Kaisar yang kini memegang kendali takhta. Jubahnya berwarna nila, dihiasi bordiran naga emas yang tampak mengancam dalam pencahayaan redup. "Kami semua mengira Anda telah tiada." Li Wei tersenyum tipis. Senyum yang *dingin* dan *menakutkan*. "Kematian adalah ilusi, Permaisuri. Sama seperti kesetiaan." Permaisuri Lian bangkit, berjalan mendekat. Langkahnya anggun, namun memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan. "Kata-kata Anda... menusuk. Apakah Anda menuduh saya, Li Wei?" "Saya hanya menyatakan fakta, Permaisuri. Kebakaran itu... *terlalu sempurna*. Terlalu banyak kebetulan yang menguntungkan Anda." Permaisuri Lian tertawa pelan. Tawa yang terdengar seperti derit engsel pintu besi berkarat. "Anda terlalu mencurigai saya. Saya berduka atas kematian Anda, Li Wei. Anda adalah teman baik mendiang Kaisar." Li Wei menatapnya lekat-lekat. Matanya bagaikan *jurang tanpa dasar*. "Teman? Atau ancaman? Kaisar mencintai saya, Permaisuri. Ia lebih mempercayai saya daripada Anda." Permaisuri Lian berhenti tertawa. Ekspresinya berubah, dari angkuh menjadi murka. "Beraninya Anda—" "Berani? Saya hanya menginginkan *kebenaran*, Permaisuri. Kebenaran tentang surat wasiat Kaisar yang hilang. Kebenaran tentang racun yang merenggut nyawanya. Kebenaran tentang Anda." Keheningan kembali menyelimuti aula. Udara terasa berat, dipenuhi tensi yang mencekik. Permaisuri Lian menghela napas panjang. "Baiklah, Li Wei. Mari kita bicara tentang kebenaran. Kebenaran yang *sebenarnya* adalah... Saya selalu memegang kendali." Permaisuri Lian mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada dua pengawal yang selama ini bersembunyi di balik pilar. Mereka adalah para ahli pedang terbaik di kerajaan. "Anda pikir Anda bisa mengalahkan saya, Li Wei? Anda terlambat. Rencana ini... sudah dimulai sejak lama sekali. Sepuluh tahun lalu, ketika Anda 'mati', itu hanyalah permulaan. Dan sekarang..." Permaisuri Lian tersenyum. Senyum yang *mengerikan*, senyum yang akan membekas di mimpi buruk siapa pun. Li Wei tidak gentar. Ia tetap duduk dengan tenang, seolah kematian hanyalah tidur siang yang singkat. "Saya tahu, Permaisuri," ucap Li Wei pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Saya selalu tahu." Permaisuri Lian terkejut. "Apa maksudmu?" Li Wei mengangkat kepalanya. Senyumnya melebar, menunjukkan deretan gigi putih yang *tajam* bagaikan taring serigala. "Anda pikir saya korban? Anda salah. Saya yang *membuat* Anda berpikir begitu." Li Wei berdiri. Di balik jubahnya, ia menyembunyikan bilah pedang yang berkilauan mematikan. "Karena... **SENYUM SAYA ADALAH CARA SAYA MENUTUP PINTU NERAKA UNTUK ANDA.**"
You Might Also Like: Unveiling Optimal Custody Schedules For

Share on Facebook