Baiklah, ini adalah kisah Dracin intens dengan nuansa yang Anda inginkan: **Kau Berjalan Menjauh, Tapi Bayanganmu Masih Menempel di Jantungku** Malam itu kelam, selayaknya malam-malam sebelumnya di rumah leluhur keluarga Zhang. Salju turun tanpa ampun, mewarnai segala yang disentuhnya menjadi putih pucat, sebuah kanvas bagi **DARAH** yang sebentar lagi akan mengotori keindahannya. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau amis yang menusuk, menciptakan simfoni memuakkan yang menghantui jiwa. Mei Lan menatap punggung Jian, siluetnya yang tegap tampak begitu asing. Dulu, punggung itu adalah tempatnya bersandar, tempatnya mencari perlindungan dari dunia yang kejam. Sekarang, yang dilihatnya hanyalah **kebencian** yang memancar, dinginnya **pengkhianatan**. "Kau... kau tahu?" Suara Mei Lan bergetar, nyaris tak terdengar di tengah deru angin. Jian tidak berbalik. "Selama bertahun-tahun. Setiap senyum, setiap sentuhan... adalah kebohongan." Rasa sakit menghantam Mei Lan bagai gelombang pasang. Rahasia itu akhirnya terkuak, rahasia kelam yang selama ini mereka kubur dalam-dalam. Dulu, kakek Jian bersumpah setia pada keluarga Zhang. Tapi, keserakahan dan ambisi membutakannya. Ia membunuh ayah Mei Lan, merebut kekuasaan, dan meninggalkan Mei Lan yatim piatu, terpaksa hidup dalam naungan keluarga yang membunuh ayahnya. Air mata Mei Lan membeku di pipinya, sepedih salju yang menyentuh kulit. "Kenapa? Kenapa kau tidak membunuhku saja saat itu?" Jian akhirnya berbalik. Matanya gelap, namun di dalamnya, Mei Lan melihat secercah... *sesal*? "Membunuhmu akan terlalu mudah. Kau harus hidup, Mei Lan. Kau harus merasakan penderitaan yang sama sepertiku." "Penderitaanmu?" Mei Lan tertawa hambar. "Kau pikir aku tidak menderita? Aku mencintaimu, Jian! Meskipun aku tahu siapa keluargamu, meskipun aku tahu apa yang mereka lakukan, aku tetap mencintaimu!" Jian terdiam. Di antara mereka, api unggun menjilat-jilat, menari liar seperti **kenangan** yang tak mungkin padam. Di atas abu yang beterbangan, mereka pernah berjanji, di bawah langit yang sama, mereka pernah bermimpi. "Janji..." Mei Lan berbisik, suaranya tercekat. "Semua itu... bohong?" Jian tidak menjawab. Ia hanya menatap Mei Lan, ekspresinya tak terbaca. Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, ia mengeluarkan pedang. Kilatannya membelah kegelapan, mengancam dan mematikan. Mei Lan menutup matanya. Ia sudah lelah. Lelah mencintai, lelah membenci, lelah berpura-pura. Ia pasrah. Namun, tebasan pedang itu tidak pernah sampai. Mei Lan membuka matanya. Jian masih berdiri di depannya, tapi bukan dia yang memegang pedang. Di belakang Jian, sosok tua renta dengan kimono hitam berdiri tegak. Wajahnya keriput, matanya tajam seperti elang. Itu adalah bibi Mei Lan, satu-satunya keluarga yang tersisa. Bibi Mei Lan tersenyum tipis. "Kau pikir, aku akan membiarkanmu membunuh keponakanku, Jian? Setelah semua yang kau lakukan?" Pedang di tangan bibi Mei Lan berlumuran darah. Darah Jian. Jian terjatuh ke salju, matanya memandang Mei Lan dengan tatapan *penyesalan* yang mendalam. Mei Lan menatap jasad Jian, hatinya kosong. Tidak ada kebahagiaan, tidak ada kepuasan, hanya kehampaan yang menyayat. Balas dendamnya telah terlaksana. Tapi, harga yang harus dibayarnya terlalu mahal. Bibi Mei Lan mendekati Mei Lan dan menggenggam tangannya. "Sekarang, semuanya sudah berakhir. Kau bisa tenang, Mei Lan." Mei Lan tidak menjawab. Ia hanya menatap salju yang mulai menutupi jasad Jian, perlahan tapi pasti. Malam itu, di tengah salju yang membeku, di antara aroma dupa dan darah, Mei Lan menyadari satu hal: balas dendam mungkin memuaskan, tapi tidak pernah bisa mengembalikan apa yang telah hilang. Dan bisikan angin malam itu membawa pesan yang dingin: *Kau tidak akan pernah bisa melupakan baunya, bukan?*
You Might Also Like: Unraveling Weight Equation Kilograms To

Share on Facebook