Oke, inilah kisah Dracin pendek yang Anda minta: **Aku Berlutut di Depanmu, Tapi Hatiku Berdiri Melawanmu.** Kabut dupa mengepul di pelataran kuil, menyelimuti sosok Jing Wei. Gaun sutranya yang berwarna giok bergemerisik saat dia membungkuk dalam-dalam, *berlutut* di depan Pangeran Rui. Pangeran tampan itu tersenyum tipis, senyum yang seharusnya menenangkan, namun malah membuat darah Jing Wei mendidih. "Bangunlah, Putri Jing Wei. Pengorbananmu untuk kekaisaran sangatlah mulia," ucap Pangeran Rui, suaranya semerdu madu, *mematikan* di telinga Jing Wei. Ini adalah kehidupannya yang kedua. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah Lin Yue, seorang jenderal wanita yang setia membela kekaisaran hingga titik darah penghabisan. Dia percaya pada cinta Pangeran Rui, tunangannya, dan mengikuti setiap perintahnya tanpa ragu. Namun, di medan perang yang berlumuran darah, dia dikhianati. Diserang dari belakang, tepat saat dia hampir memenangkan pertempuran. Kata-kata terakhir yang didengarnya adalah bisikan Pangeran Rui, "Kekuatanmu terlalu besar, Yue'er. Aku tidak bisa membiarkanmu terus hidup." Kenangan itu datang seperti pecahan kaca, menusuk hatinya di setiap kesempatan. Awalnya hanya bisikan samar, mimpi buruk yang mengganggu. Lalu, penglihatan yang semakin jelas, aroma mesiu, teriakan kesakitan, dan wajah Pangeran Rui yang tersenyum puas saat menusuk jantungnya. Di kehidupan ini, dia dilahirkan kembali sebagai Putri Jing Wei, anak dari seorang menteri penting. Dia *tahu*, jauh di lubuk hatinya, bahwa Pangeran Rui juga mengingat kehidupan mereka sebelumnya. Senyumnya terlalu *dingin*, tatapannya terlalu *mengevaluasi*. Dia harus berhati-hati. Membalas dendam secara terang-terangan hanya akan mengulang kesalahan masa lalu. Dia harus bermain dengan cerdas, menggunakan kelemahan Pangeran Rui untuk menjatuhkannya. Keserakahannya akan kekuasaan. Saat dia berlutut, hatinya berteriak. *BERDIRI! LAWAN DIA!* Tapi dia tetap menunduk, menyembunyikan amarahnya di balik senyum manis. Dia akan memainkan peran sebagai putri penurut, calon permaisuri yang ideal. Dia akan menikahi Pangeran Rui, menduduki posisi yang paling *dekat* dengannya, dan kemudian... ...kemudian dia akan pastikan Pangeran Rui merasakan setiap tetes penderitaan yang dia alami di kehidupan sebelumnya. Dia akan menggunakan setiap senyumnya, setiap kata manisnya, sebagai senjata. Pangeran Rui mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Sentuhannya membakar kulitnya, mengingatkannya akan pengkhianatan yang menyakitkan. Dia menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menusuk matanya saat itu juga. "Aku berjanji akan melayanimu dengan sepenuh hati, Yang Mulia," bisiknya, suaranya bergetar penuh kepura-puraan. Pangeran Rui tertawa kecil, menariknya lebih dekat. "Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik, Putri. Bagaimanapun juga, takdir selalu punya cara untuk mempertemukan kita kembali." Jing Wei membalas tatapannya, matanya berkilat dengan tekad yang tersembunyi. Dia tidak akan membiarkan takdir mengendalikan hidupnya lagi. Dia akan menulis ulang takdirnya sendiri, dengan tinta darah dan air mata. Dia akan memulai dengan menerima tawaran pernikahannya, dengan penuh senyum. Karena pernikahan itu akan menjadi awal dari kehancuran Pangeran Rui. *Aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan, bahkan jika itu membutuhkan seribu tahun lagi untuk menyelesaikannya....*
You Might Also Like: Review Skincare Lokal Untuk Memperbaiki

Share on Facebook