Endingnya Gini! Aku Mati Di Tanganmu Dan Hidup Dengan Kenangan Itu
Aku Mati di Tanganmu dan Hidup dengan Kenangan Itu
Embun pagi merayap di kelopak Lotus Salju di taman terlarang. Wanginya menusuk kalbu, mengingatkanku pada senyum Li Wei, senyum yang kini terasa bagai belati berkarat. Lima belas tahun lalu, di bawah rembulan yang sama, aku menyerahkan nyawaku padanya. Aku mati di tangannya, demi melindungi rahasia yang kini menghantuiku dalam setiap napas.
Aku hidup kembali.
Bukan dalam tubuh yang sama, bukan dengan ingatan yang utuh. Aku Yu Mei, pewaris tunggal keluarga Yu yang terpandang. Aku datang ke ibukota, bukan untuk mencari kemewahan, melainkan mencari kebenaran. Kebenaran yang tersembunyi di balik senyum Li Wei, seorang jenderal besar yang dielu-elukan rakyat. Ia adalah pahlawan di mata dunia, namun di mataku, ia hanyalah seorang pembunuh.
Dinamika kami bagaikan tarian kematian. Aku, Yu Mei, mendekatinya dengan senyum palsu, mengorek masa lalu dengan kelembutan seorang geisha. Ia, Li Wei, menyambutku dengan keramahan semu, menyembunyikan kebohongan di balik tatapan mata elangnya.
"Yu Mei, kau mengingatkanku pada seseorang," ucapnya suatu malam, di bawah taburan bintang yang dingin. Suaranya berat, menyimpan rahasia yang sama pahitnya dengan racun manthra.
"Benarkah, Jenderal Li?" balasku, bibirku mengulas senyum yang kupelajari bertahun-tahun. "Apakah dia seseorang yang kau cintai?"
Ia terdiam. Angin berdesir, membawa serta aroma kenangan yang menyakitkan. Aku tahu, aku sudah menyentuh lukanya.
Semakin aku mendekat, semakin aku menemukan kebenaran yang menghancurkan. Rahasia keluarga Yu, pengkhianatan yang mendalam, dan konspirasi yang melibatkan tahta kekaisaran. Ternyata, kematianku lima belas tahun lalu bukanlah sebuah kecelakaan. Aku adalah tumbal.
Konflik semakin menekan. Aku harus memilih: mengungkap kebenaran dan menghancurkan Li Wei, atau mengubur dendamku dan hidup dalam kebohongan. Pilihanku jatuh pada yang pertama.
Di malam puncak festival lampion, aku mengungkap semuanya. Di hadapan kaisar, di hadapan rakyat, aku menelanjangi Li Wei. Kebohongannya, pengkhianatannya, semuanya terungkap.
Reaksi Li Wei di luar dugaan. Ia tidak membantah, tidak melawan. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada penyesalan, ada kesedihan, dan… CINTA?
"Aku melakukan semua ini… untuk melindungimu," bisiknya, sebelum para penjaga menyeretnya pergi.
Balas dendamku sempurna. Li Wei jatuh dari singgasana, reputasinya hancur berkeping-keping. Namun, kemenangan ini terasa pahit. Aku membunuhnya, bukan dengan pedang, melainkan dengan kebenaran.
Bertahun-tahun kemudian, aku berdiri di makamnya. Di atas batu nisan terukir namanya, dan di bawahnya, sebuah kalimat yang hanya aku yang tahu maknanya: Ia mati di tanganku, dan aku hidup dengan kenangan itu.
Aku tersenyum. Senyum perpisahan. Senyum yang menyimpan kehancuran.
Dan kemudian, aku berbisik, "Apakah kau benar-benar mencintaiku, ataukah itu hanya cara untuk meredam rasa bersalahmu?"
Apakah kutukan itu benar-benar berakhir, atau hanya berpindah tangan?
You Might Also Like: 21 Kelebihan Sunscreen Mineral Untuk