Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Senyum yang Menjadi Akhir Segalanya', dengan penekanan dan gaya yang diminta: **Senyum yang Menjadi Akhir Segalanya** Hujan gerimis menari di jendela kaca, memantulkan siluet *Yu Mei*, berdiri anggun di balkon mansionnya. Gaun sutra merah marunnya berkibar lembut tertiup angin, seolah menirukan tarian hatinya yang dulu begitu riang. Dulu. Sekarang, hanya ada *kehampaan* yang menggema di setiap sudut ruang. Lima tahun. Lima tahun ia mencintai *Li Wei*, menyerahkan seluruh hatinya, seluruh kepercayaannya. Lima tahun ia membangun imperium bisnis bersamanya, bahu membahu, mimpi dan harapan terukir di setiap sudut. Lima tahun ia dibutakan oleh sebuah **SENYUM**. Senyum manis yang ternyata adalah topeng, menyembunyikan pengkhianatan yang menusuk jantung. "Yu Mei," suara itu, suara yang dulu membuatnya mabuk kepayang, kini terdengar hambar, *beracun*. Li Wei berdiri di ambang pintu, raut wajahnya diliputi penyesalan. "Maafkan aku." Yu Mei menoleh perlahan. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, menatap Li Wei tanpa emosi. "Maaf? Apa itu cukup untuk menebus lima tahun pengkhianatan? Lima tahun kebohongan?" Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, *senyum yang menipu*, sama seperti senyum Li Wei dulu. Ia ingat *pelukan* Li Wei. Dulu terasa hangat dan melindungi, kini ia tahu, setiap sentuhan itu adalah *racun* yang perlahan menggerogoti jiwanya. Ia ingat *janji* Li Wei. Janji setia selamanya, janji untuk selalu bersamanya, yang kini hanyalah *belati* tajam yang berputar-putar di dadanya. "Aku... aku mencintaimu, Yu Mei. Tapi..." Li Wei tergagap, tak mampu melanjutkan kata-katanya. Yu Mei mengangkat tangannya, menghentikan alur kata-kata menyakitkan itu. "Tidak perlu, Li Wei. Aku sudah tahu segalanya. Tentang *dia*. Tentang rencana kalian." Suaranya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Elegansinya adalah perisai, menyembunyikan luka yang menganga lebar di dalam. Di bawah langit kelabu, Yu Mei melaksanakan balas dendamnya. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan pertumpahan darah. Ia membiarkan Li Wei menikahi wanita itu, mewarisi perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah. Namun, ia memastikan bahwa setiap sen yang mereka hasilkan, setiap momen kebahagiaan yang mereka rasakan, akan ternoda oleh bayangan penyesalan yang *ABADI*. Beberapa bulan kemudian, Li Wei kehilangan segalanya. Perusahaan bangkrut, nama baik tercoreng, dan wanita yang dinikahinya meninggalkannya. Ia berdiri di depan Yu Mei, tatapan matanya kosong dan putus asa. Yu Mei menatapnya dengan senyum dingin. "Kau pikir aku akan merasa puas melihatmu seperti ini? Salah. Aku hanya merasa... hampa. Karena pada akhirnya, aku menyadari bahwa yang kulakukan ini tidak akan pernah bisa mengembalikan hatiku yang dulu." Ia berbalik, meninggalkan Li Wei yang terpaku di tempatnya. Langkahnya ringan, namun hatinya terasa *berat*. Ia tahu, *balas dendamnya terasa manis sekaligus pahit*, meninggalkan luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh. Saat gerbang mansion menutup di belakangnya, Yu Mei bergumam lirih, "Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang *SAMA* bukan?"
You Might Also Like: 115 Work Reaction Gif By Mrjonjon Reach

Share on Facebook