## Kau Datang Sebagai Musuh, Padahal Dulu Kau Cintaku Kabut lavender menyelimuti Kota Bunga, mewarnai pagi di era *modern* ini dengan sentuhan nostalgia. Aku, Lin Mei, seorang desainer grafis biasa, selalu merasa ada yang hilang. Fragmen-fragmen mimpi aneh menghantuiku: taman bunga plum di musim semi, jubah sutra berwarna *saphire*, dan tatapan mata yang… menusuk. Lalu dia datang. Zhang Wei. Pewaris kekaisaran teknologi yang dingin dan arogan. Sejak pertemuan pertama, aura *familiar* sekaligus asing terpancar darinya. Matanya, setajam belati, membuat jantungku berdebar tak karuan. Dia datang dengan tawaran yang tak bisa kutolak: posisi *Art Director* di perusahaannya, dengan syarat aku bersedia bekerja langsung di bawahnya. Ketegangan melingkupi kami setiap saat. Setiap sentuhan tak sengaja, setiap tatapan mata, memicu *flashback* aneh. Sebuah melodi kuno yang menghantui. Sebuah pengkhianatan. Di balik senyum sinis Zhang Wei, aku merasakan *gema* masa lalu. Mimpi-mimpi aneh itu semakin jelas, mengungkap kisah tragis Putri Mei Lin dari Dinasti Yan, dan seorang Jenderal yang mengkhianatinya demi kekuasaan. Nama Jenderal itu… Zhang Hong. Semakin dekat aku dengannya, semakin kuat pula ingatan itu mengalir. Aku ingat taman bunga plum, senyum Jenderal Zhang Hong yang menawan, dan kemudian… pisau yang berkilauan di bawah rembulan, menembus jantungku. Dia telah merebut takhta dan membunuhku. Tapi kali ini berbeda. Aku, Lin Mei, bukan lagi seorang putri yang lemah. Aku memiliki ingatan, pengetahuan, dan kesempatan. Aku menerima tawaran Zhang Wei, bukan karena cinta yang tersisa, tapi karena… *keadilan*. Perlahan, aku mengungkap borok perusahaannya, korupsi yang menggerogoti dari dalam. Aku menyerahkan bukti-bukti itu kepada media, memastikan kejatuhan Zhang Wei dan kerajaannya. Saat dia menatapku dengan *kemarahan* dan *kebingungan* di matanya, aku hanya tersenyum tipis. “Dulu kau membunuhku demi kekuasaan. Sekarang, aku hanya mengambilnya kembali.” Zhang Wei jatuh. Hancur. Kejatuhannya bukan karena balas dendam yang kejam, melainkan karena konsekuensi dari *pilihannya* sendiri. Aku tidak membunuhnya, aku hanya memberinya cermin untuk melihat siapa dirinya sebenarnya. Meninggalkan gedung pencakar langit yang pernah menjadi nerakaku, aku menatap Kota Bunga yang diselimuti kabut lavender. Angin berbisik di telingaku, membawa melodi kuno yang sama. Aku tahu, ini bukan akhir. Di suatu tempat, di suatu waktu, kita akan bertemu lagi. *Dan kisah kita akan berlanjut… selamanya*.
You Might Also Like: Hasbro Marvel Legends Thanos 6 Inch

Share on Facebook