Baik, inilah kisah dracin berjudul 'Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku' yang berlatar di istana penuh intrik dan rahasia: **Kau Menghapus Ingatanmu, Tapi Tak Bisa Menghapus Rasaku** Aula Emas Istana Ming begitu megah. Cahaya lilin menari-nari di dinding yang dipenuhi lukisan naga, memantul pada lantai marmer yang dipoles hingga berkilau. Namun, kemegahan itu tak mampu menutupi hawa mencekam yang terasa begitu nyata. Di balik tirai sutra berwarna zamrud, bisikan pengkhianatan merayap seperti ular, mencari celah untuk melumpuhkan. Tatapan para pejabat begitu tajam, seolah mampu menembus setiap lapisan kebohongan. Di tengah aura kekuasaan yang pekat ini, berdiri *Wang Fei*, Permaisuri Agung. Kecantikannya bagai lukisan abadi, namun matanya menyimpan luka yang dalam. Ingatannya telah dihapus oleh racun misterius, menghilangkan semua kenangan tentang masa lalunya, termasuk cintanya pada *Pangeran Rui*. Pangeran Rui, sang pangeran pemberontak. Dulu, dialah yang memenuhi hati Wang Fei dengan cinta dan tawa. Kini, ia hanya melihat tatapan kosong di mata wanita yang dicintainya. Kekuatan cinta mereka, yang dulu begitu besar, kini menjadi permainan takhta yang berbahaya. Setiap janji bisa menjadi pedang, setiap senyuman bisa menyembunyikan racun. "Aku tak peduli ingatanmu kembali atau tidak," bisik Pangeran Rui, menggenggam tangan Wang Fei di taman istana yang sepi. "Yang penting, aku tahu, di lubuk hatimu, kau masih merasakanku." Wang Fei menarik tangannya. Ia tak mengerti apa yang dirasakannya. Ia hanya tahu, Pangeran Rui membuatnya merasa *aneh*, merasa tidak aman. Ia adalah ancaman bagi *kekuasaannya*, bagi kehidupan barunya sebagai Permaisuri Agung. "Yang Mulia Pangeran," jawab Wang Fei dengan suara dingin, "anda salah. Aku hanyalah seorang Permaisuri yang setia pada Kaisar." Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah benih keraguan mulai tumbuh. Apakah benar, semua yang ia yakini adalah kebenaran? Apakah benar, Pangeran Rui hanyalah masa lalu yang harus dilupakan? Intrik istana semakin rumit. Kaisar yang lalim semakin gila kekuasaan. Pangeran Rui terus berjuang untuk membuktikan cintanya pada Wang Fei dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya ingatan sang Permaisuri. Di saat yang genting, ketika Pangeran Rui terpojok dan nyawanya terancam, Wang Fei melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh para pengkhianat istana. Ia membuktikan bahwa Kaisar adalah boneka yang dikendalikan oleh *kasim* yang haus darah. Wang Fei, yang selama ini dianggap lemah dan tak berdaya, ternyata adalah dalang dari semua ini. Ia telah memalsukan amnesia, menyusun rencana balas dendam yang *sempurna* atas kematian keluarganya. "Kau pikir aku lupa?" bisik Wang Fei, menatap Kaisar yang berlutut memohon ampun. "Tidak. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkanmu." Dengan elegan, dingin, dan mematikan, Wang Fei menyingkirkan semua musuhnya. Ia merebut kembali kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya. Ia membalas dendam atas semua penderitaan yang dialaminya. Lalu, ia menatap Pangeran Rui, yang berdiri terpaku di kejauhan. *Wanita yang dicintainya kini menjadi kaisar.*
You Might Also Like: 40 Alasan Produk Skincare Lokal Dengan

Share on Facebook