**Kau Berjanji Akan Kembali, Tapi Aku Tahu Janji Itu Kutukan.** Hujan kota Seoul selalu memiliki aroma yang sama dengan kopi gosong dan janji yang dilanggar. Notifikasi berkedip di layar ponselku, sebuah pengingat bodoh dari aplikasi kencan yang aku lupa hapus. Empat tahun. Empat tahun sejak pesan terakhirmu, empat tahun sejak kau *berjanji* akan kembali. Janji yang kini kurasakan seperti kutukan. Dulu, kita bertemu di tengah labirin kafe trendi Gangnam. Kau, dengan senyum miring dan headphone yang selalu menggantung di leher. Aku, dengan notebook lusuh dan mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk kota ini. Cinta kita tumbuh di antara sisa chat yang tak terkirim, emoji hati yang malu-malu, dan lagu-lagu indie yang kita bagi di Spotify. Kita adalah kisah modern, dirajut dari piksel dan getar, diwarnai oleh cahaya neon dan aroma kimchi. Kita berbicara tentang *segalanya*, kecuali satu hal. Satu hal yang selalu membayangi setiap percakapan kita, bersembunyi di balik senyummu yang terlalu sempurna. Rahasia. Aku merasakannya seperti dengungan rendah di balik melodi lagu kesukaanmu. Kau pergi tanpa penjelasan. Hanya pesan singkat: "Aku harus pergi. Maaf." Titik. Tanpa tanda tanya, tanpa alasan, tanpa janji yang sungguh-sungguh. Hanya janji kosong bahwa kau akan kembali. Janji yang aku bodohi diriku sendiri untuk percayai. Bertahun-tahun berlalu. Aku mencoba menghapus jejakmu. Menghapus fotomu dari Instagram, memblokir nomormu, membakar surat-suratmu (ya, kita cukup kuno untuk berkirim surat). Tapi kenangan itu keras kepala. Seperti noda kopi di baju putih, ia selalu ada di sana, mengingatkanku pada cinta yang hilang, pada rahasia yang belum terpecahkan. Semalam, aku mimpi tentangmu. Kau berdiri di tengah hujan Seoul, wajahmu buram, matamu dipenuhi penyesalan. Kau mencoba mengatakan sesuatu, tapi suaramu tenggelam dalam deru air. Aku terbangun dengan keringat dingin dan perasaan *TAK TERTANGGUNGKAN* kehilangan. Kemudian, aku menemukan amplop cokelat di balik lemari buku. Amplop tanpa nama pengirim. Di dalamnya, sebuah foto. Foto dirimu dan seorang wanita, berdiri di depan rumah sakit. Wanita itu menggendong bayi. Senyummu di foto itu, senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyum *KEBAHAGIAAN* sejati. *RAHASIA* itu akhirnya terungkap. Balas dendamku lembut, namun mematikan. Aku menulis pesan terakhir. Bukan untukmu. Tapi untuk diriku sendiri. Kupilih foto terbaikku. Rambutku ditata sempurna, bibirku dipoles merah menyala. Aku berdiri di depan Menara Namsan, lampu-lampu kota berkelap-kelip di belakangku. Aku tersenyum. Bukan senyum yang manis dan polos seperti dulu. Tapi senyum pahit, senyum kekuatan. Ketik: "Akhirnya aku mengerti. Terima kasih." Kukirim ke grup chat keluarga barumu. ...dan aku memblokir nomormu. *Selamat tinggal*, Park Jimin. Selamat tinggal.
You Might Also Like: Drama Seru Kau Bilang Kita Tak Boleh

Share on Facebook