## Kau Tersenyum di Pesta Pernikahanmu, Sementara Aku Belajar Cara Melupakan Lampu-lampu kristal berdansa di langit-langit ballroom, memantulkan gaun putihmu yang bagai awan. Kau tersenyum, senyum yang dulu hanya untukku, kini dibagi rata pada ratusan tamu. Senyum yang **MEMBUNUH**ku perlahan. Di sudut remang, aku menyesap anggur merah, membiarkan cairan pahit itu membakar tenggorokanku, sama seperti kenangan tentangmu membakar hatiku. Ingatkah kau, Zi Qing? Dulu kita berjanji di bawah pohon *sakura* yang bermekaran, janji yang kini hanya debu di beranda ingatan. Malam ini, kau milik orang lain. Orang yang mungkin memberimu istana, berlian, dan semua kemewahan yang tak bisa kuberikan. Tapi, Zi Qing, bisakah ia memberimu cintaku? Cinta yang kujaga seperti *giok* suci, yang kini kutemukan retaknya di setiap sudut. Aku melihat matamu, sekilas menangkap bayangan keraguan saat pandanganmu bertemu pandanganku. Ada semacam penyesalan di sana, sekilas, nyaris tak terlihat. Apakah kau ingat bisikanku di tengah malam, tentang impian kita, tentang masa depan yang kita rajut bersama? Malam ini, aku belajar cara melupakanmu. Aku belajar bagaimana caranya memalsukan senyum, bagaimana caranya menahan air mata, dan bagaimana caranya merapal mantra: "Aku tidak mencintaimu lagi." Mantra yang *PALSU*. Musik berdendang, melodi menyayat yang mengiringi langkahmu menuju altar. Kau menggandeng tangan suamimu, punggungmu tegak, namun aku melihat bahumu bergetar. Atau mungkin itu hanya ilusi, permainan cahaya dan anggur merah. Kemudian, kejadian itu terjadi. Penyanyi opera di atas panggung tiba-tiba terbatuk, lalu terhuyung. Suaranya, yang tadinya mengalun merdu, berubah menjadi desisan serak. Ia memegangi dadanya, matanya melotot panik, lalu ambruk di depan ratusan mata yang terkejut. Kau menjerit. Suamimu memelukmu erat. Para tamu berbisik panik. Ternyata, penyanyi itu alergi berat terhadap *bunga Lily*, dan seseorang, entah siapa, menaruh karangan bunga Lily yang sangat besar tepat di samping panggung. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Sungguh. Aku hanya tahu, bahwa suamimu, lelaki yang kini memelukmu erat, sangat alergi terhadap Lily. Ia akan mengalami reaksi yang *FATAL* jika terpapar dalam jumlah banyak. Kau menatapku sekali lagi, Zi Qing. Ada ketakutan, kebingungan, dan…sebuah pertanyaan tanpa kata. Aku hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas anggurku. Keadilan, terkadang, hadir tanpa kita rencanakan. Takdir memang punya caranya sendiri. *Akankah kau mencintaiku lagi, jika aku tidak pernah melupakanmu?*
You Might Also Like: Reseller Skincare Bisnis Tanpa Modal

Share on Facebook