## Tangisan di Balik Balai Pengadilan Cinta Hujan turun. Bukan hujan yang bergemuruh membahana, melainkan rinai lembut yang membasahi nisan batu di pemakaman Bukit Senja. Setiap tetesnya bagai air mata *abadi*, menyatu dengan tanah yang memeluk jasad Li Wei. Bayangan pohon bambu menari, menolak pergi meski mentari telah lama bersembunyi. Li Wei kembali. Bukan dalam wujud yang pernah dikenal, melainkan sebagai *roh*, selubung energi yang terikat pada janji yang belum terucap. Ia berdiri di luar Balai Pengadilan Cinta, tempat di mana keadilan duniawi seharusnya ditegakkan. Namun, keadilan baginya terasa *palsu*, bagai cermin retak yang memantulkan kebohongan. Ia ingat hari itu. Hari di mana lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat oleh rasa takut dan pengkhianatan. Tuduhan palsu, tatapan menghakimi, dan vonis yang menjatuhkannya ke jurang keputusasaan. Ia mati dengan membawa beban kebohongan, sebuah kebohongan yang *menghantuinya*. Kini, ia kembali untuk menuntaskan apa yang tertinggal. Bukan untuk balas dendam, *tidak sama sekali*. Dendam hanya akan mengikatnya lebih erat pada dunia yang ditinggalkannya. Ia mencari kebenaran, sebuah pengakuan yang akan membebaskannya dari belenggu penyesalan. Setiap malam, ia hadir di balik bayangan, menyaksikan persidangan yang digelar di Balai Pengadilan Cinta. Pengacara yang korup, saksi yang berbohong, dan hakim yang menutup mata. Ia mendengarkan dengan sabar, menyerap setiap detail, mengumpulkan bukti satu per satu. Bayangan-bayangan *masa lalu* berputar di sekelilingnya, mengingatkannya akan sakit hati dan ketidakadilan yang dialaminya. Suatu malam, ia melihatnya. Zhang Lei, sahabatnya, orang yang paling ia percaya, berdiri di podium saksi. Bibirnya bergetar, matanya berkilat ketakutan. Zhang Lei akan berbohong lagi. Li Wei mengulurkan tangannya, mencoba meraih sahabatnya, mencoba menyampaikan kebenaran yang terpendam. Namun, tangannya hanya menembus tubuh Zhang Lei. Ia hanyalah roh, terperangkap di antara dunia hidup dan arwah. Di tengah keputusasaan, ia menemukan petunjuk. Sebuah surat tersembunyi, disembunyikan di balik lukisan di ruang kerja Zhang Lei. Surat itu berisi pengakuan dari orang yang sebenarnya bersalah, sebuah konspirasi yang dirancang untuk menjatuhkannya. Keesokan harinya, di Balai Pengadilan Cinta, surat itu dibacakan. Kebenaran akhirnya terungkap. Zhang Lei, yang selama ini hidup dalam ketakutan dan penyesalan, akhirnya mengakui kebohongannya. Hujan di luar mereda. Cahaya rembulan menyinari wajah Li Wei yang pucat. Beban di pundaknya terasa *ringan*. Ia tidak mencari balas dendam. Ia hanya ingin kedamaian. Dengan kebenaran yang terungkap, janji yang belum terucap telah ditunaikan. Ia bisa pergi dengan tenang. Ia melihat ke arah Balai Pengadilan Cinta, tempat di mana keadilan akhirnya ditegakkan. Roh itu menghilang perlahan, seperti kabut yang tertiup angin…
You Might Also Like: Perbedaan Sunscreen Mineral Lokal Tanpa

Share on Facebook