**Ia Menikah Dengan Musuhku, Tapi Tetap Mencium Udara yang Sama** Hujan merintik di atas nisan marmer. Dinginnya menusuk tulang, serupa dengan kenyataan yang menerpaku. Dulu, aku adalah Li Mei, seorang pengusaha muda yang ambisius. Sekarang, aku hanya bayangan, hantu penasaran yang terikat di dunia ini. Aku kembali, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk… menyelesaikan. Dunia arwah terasa sunyi. Bukan sunyi tanpa suara, tapi sunyi yang menggema. Gema penyesalan, gema cinta yang tak terucap, gema KEBOHONGAN yang membelenggu. Aku terikat di sini, di antara hidup dan mati, karena kebohongan itu. Suamiku, Zhang Wei, menikahi *musuhku* setelah kematianku. Zhang Wei, pria yang dulu kurasa mencintaiku lebih dari matahari mencintai bumi. Ia menikahi Lin Yue, wanita yang kuhadapi dalam setiap rapat bisnis, wanita yang kulihat mata penuh dengkinya saat aku meraih kesuksesan. Pemandangan itu… **menusuk**. Aku mengikutinya setiap hari. Bayanganku menyelinap di antara bayangannya. Aku ingin marah, berteriak, MEMINTA PENJELASAN! Tapi, aku hanyalah roh. Suaraku tak terdengar, tanganku tak bisa menyentuh. Aku hanya bisa mengamati, merasakan, dan menyerap KETIDAKADILAN ini. Rumah kami, yang dulunya penuh tawa dan kehangatan, kini dihiasi senyum palsu dan kecurigaan. Lin Yue tampak bahagia, namun matanya menyimpan sesuatu. Zhang Wei… ia tampak letih, seperti membawa beban yang teramat berat. Aku mencari tahu. Mengikuti mereka dalam diam, mengamati gerak-gerik mereka, mengumpulkan serpihan kebenaran yang tercecer di antara obrolan dan tatapan. Bayangan di sudut ruangan menjadi saksi bisuku. Hujan yang membasahi jendela menjadi air mataku. Semakin aku mencari, semakin aku menyadari bahwa *bukan balas dendam* yang kubutuhkan. Bukan amarah yang kucari. Aku ingin tahu kebenaran. Tentang kematianku, tentang pernikahan mereka, tentang alasan mengapa aku terperangkap di sini. Suatu malam, aku melihat Zhang Wei duduk di ruang kerja, menatap foto kami. Air mata menetes di pipinya. Ia bergumam, "Maafkan aku, Mei. Maafkan aku…" Lalu, ia mengeluarkan sebuah amplop. Sebuah surat. Dengan tangan gemetar, ia membukanya dan mulai membaca. Surat itu… surat itu adalah pengakuan. Pengakuan Lin Yue. Ia mengaku telah MEMANIPULASI data perusahaan, menyebabkan aku terjerat masalah hukum. Ia juga mengaku… ia yang telah MENCEMARI minumanku, yang menyebabkan aku terkena serangan jantung mendadak. Semuanya JELAS sekarang. Zhang Wei tidak bersalah. Ia menikahi Lin Yue untuk melindungi nama baikku, untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Ia rela hidup dalam kebohongan, demi menjaga kenanganku. Kedamaian mulai merayap dalam diriku. Bukan kedamaian yang sempurna, tapi kedamaian yang cukup. Kebenaran telah terungkap. Tugasnya selesai. Aku menatap Zhang Wei sekali lagi. Ia masih membaca surat itu, air mata membasahi pipinya. Aku mendekat, mencoba menyentuhnya, namun tanganku menembus tubuhnya. Aku tersenyum. Bukan senyum pahit, bukan senyum marah, melainkan senyum legah. Senyum yang tulus. Lalu, aku berbalik dan berjalan menuju cahaya, meninggalkan dunia yang fana ini. … *dan angin sepoi-sepoi terasa seperti bisikan, "Semoga kau bahagia, Zhang Wei..."*
You Might Also Like: Dracin Populer Darah Yang Menjadi Tinta
Share on Facebook