Baiklah, ini dia kisah dracin berjudul 'Cinta yang Tak Lagi Punya Nama', dengan bumbu yang Anda minta: **Cinta yang Tak Lagi Punya Nama** Aula Emas, megah dan *mencekam*. Cahaya obor menari-nari di langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau pada jubah sutra para pejabat. Di bawahnya, tatapan tajam saling beradu, mencari celah, menunggu mangsa. Bisikan pengkhianatan merayap di balik tirai sutra, racun yang merusak dari dalam. Di istana ini, kesetiaan adalah barang langka, dan cinta… adalah kelemahan. Di tengah pusaran intrik inilah Pangeran Li Wei berdiri. Putra mahkota yang dingin dan perhitungan, matanya menyimpan badai yang tak seorang pun berani mengusik. Ia membutuhkan aliansi untuk mengamankan tahtanya, dan aliansi itu ada pada Permaisuri Jian Rou. Wanita yang kecantikannya memabukkan, namun hatinya terkunci rapat. Jian Rou, *si serigala berbulu domba*. Di balik senyum manis dan anggunnya, tersembunyi masa lalu yang kelam dan dendam yang membara. Ia datang ke istana bukan untuk cinta, melainkan untuk membalas kematian keluarganya. Li Wei adalah pion yang sempurna. Cinta mereka tumbuh di atas fondasi *kepalsuan*. Li Wei terpesona oleh kecerdasan Jian Rou, oleh kekuatannya yang tersembunyi. Jian Rou, di sisi lain, melihat potensi Li Wei, alat yang ampuh untuk mencapai tujuannya. Janji-janji diucapkan di bawah cahaya bulan, sumpah kesetiaan terucap di tengah malam. Tapi setiap janji adalah pedang bermata dua, setiap sumpah adalah jebakan yang tersembunyi. "Aku berjanji akan melindungimu," bisik Li Wei suatu malam, menggenggam tangan Jian Rou erat. Matanya tulus, namun Jian Rou hanya tersenyum pahit. "Kata-kata manis adalah racun yang paling mematikan, Pangeran," jawabnya, suaranya lembut namun menusuk. Waktu berlalu, aliansi mereka semakin kuat. Li Wei semakin dekat dengan tahta, dan Jian Rou semakin dekat dengan kebenaran. Ia menemukan bukti bahwa dalang di balik kematian keluarganya adalah… kaisar sendiri, ayah Li Wei. Hatinya hancur. Ia mencintai Li Wei, meskipun ia tahu cinta itu *terlarang*, *berbahaya*. Tapi dendamnya lebih besar. Ia harus membalas kematian keluarganya, bahkan jika itu berarti mengkhianati orang yang dicintainya. Malam itu, di Aula Emas yang sama, saat Li Wei dinobatkan sebagai kaisar, Jian Rou bergerak. Dengan anggun ia mengangkat gelas anggurnya, tersenyum manis pada Li Wei. "Selamat atas kenaikan tahtamu, *Kaisar* Li Wei," ucapnya lantang, suaranya berdering di seluruh aula. Lalu, dengan gerakan secepat kilat, ia menumpahkan anggur itu ke dalam gelas Li Wei. *RACUN*. Li Wei memandang Jian Rou, matanya penuh kebingungan, lalu *kengerian*. Ia mengerti. Cinta mereka adalah permainan takhta, dan Jian Rou adalah pemain yang *lebih cerdik*. Li Wei jatuh berlutut, kejang-kejang. Jian Rou mendekatinya, berjongkok di sampingnya. "Dendamku akhirnya terbalaskan," bisiknya dingin, matanya tanpa ekspresi. "Kau hanyalah alat, Li Wei. Kau tidak pernah benar-benar berarti apa-apa." Dengan satu gerakan anggun, ia mencabut tusuk konde di rambutnya dan menusukkannya ke jantung Li Wei. *SELESAI*. Istana terhenyak dalam keheningan. Lalu, gemuruh kengerian dan keterkejutan memecah kesunyian. Jian Rou berdiri tegak, darah menetes dari tangannya. Ia menatap para pejabat yang ketakutan, senyum sinis terlukis di wajahnya. "Kaisar telah mangkat," ujarnya dengan suara yang bergetar karena kekuasaan. "Dan aku, *Permaisuri Jian Rou*, akan memerintah." *Elegan, dingin, mematikan*. Balas dendam telah ditunaikan. Kekuatan kini berada di tangannya. Tapi kekuasaan itu dibangun di atas pengkhianatan, di atas cinta yang hancur. Dan di istana yang penuh intrik ini, *tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya*. Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri…
You Might Also Like: 98 Troubleshooting Attributeerror
Share on Facebook